Elon Musk: China Siap Jadi Raja AI Dunia, Pakar Global Ikut Membenarkan

Teknologi Terkini - Diposting pada 14 January 2026 Waktu baca 5 menit

Miliarder teknologi sekaligus pemilik platform X/Twitter, Elon Musk, menyatakan keyakinannya bahwa China berpotensi melampaui negara lain dalam pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

 

Pandangan tersebut disampaikan Musk saat berbincang dalam sebuah podcast bersama pengusaha asal Amerika Serikat, Peter Diamandis, yang tayang di kanal YouTube “Peter H. Diamandis”. Dalam diskusi itu, Musk menilai China akan memiliki kapasitas komputasi yang lebih besar dibandingkan negara lain, termasuk dari sisi jumlah dan ketersediaan chip semikonduktor.

 

Ia menyampaikan bahwa tren global saat ini, ditambah keunggulan struktural China, membuat negara tersebut berada di posisi kuat dalam persaingan AI. Menurut Musk, salah satu faktor utama keunggulan China adalah kemampuannya memperluas kapasitas pembangkit listrik secara masif.

 

Bahkan, Musk memprediksi bahwa pada 2026 China dapat menghasilkan listrik hingga tiga kali lipat lebih besar dibandingkan Amerika Serikat, sebuah kondisi yang sangat mendukung operasional pusat data AI yang membutuhkan konsumsi energi tinggi.

 

Pandangan Musk tersebut diamini oleh peneliti senior Academy of International Trade and Economic Cooperation China, Zhou Mi. Ia menyebut analisis pribadinya sejalan dengan pernyataan Musk, terutama jika dibandingkan dengan berbagai kendala yang dihadapi pengembangan proyek AI di Amerika Serikat.

 

Menurut Zhou, keterbatasan pasokan listrik di sejumlah wilayah AS, ditambah konsentrasi perusahaan teknologi besar serta lonjakan kebutuhan energi dari pusat data AI, berpotensi membatasi ekspansi proyek-proyek AI. Sebaliknya, infrastruktur dan ketersediaan listrik di China kerap dinilai mampu menopang pertumbuhan kapasitas komputasi dalam jangka panjang.

 

Sebelum Musk, CEO Nvidia Jensen Huang juga lebih dulu menyampaikan pandangan serupa. Dalam wawancara pada November 2025, Huang menyatakan bahwa China berpeluang mengungguli Amerika Serikat dalam perlombaan AI. Ia menilai sikap sinis dan skeptis di negara-negara Barat justru menjadi penghambat inovasi dan menekankan pentingnya optimisme.

 

Pernyataan Huang muncul di tengah memanasnya hubungan AS–China terkait pembatasan ekspor chip AI canggih. Pemerintahan Presiden Donald Trump tetap melarang Nvidia menjual chip kelas atasnya ke China, termasuk seri Blackwell, yang umumnya digunakan untuk melatih model AI berskala besar.

 

Huang juga menyoroti perbedaan pendekatan kebijakan antara kedua negara. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah China kini melonggarkan regulasi serta meningkatkan subsidi energi bagi pusat data yang dioperasikan perusahaan teknologi besar seperti ByteDance, Alibaba, dan Tencent.

 

Bahkan, menurut laporan Financial Times, sejumlah pemerintah daerah di China memberikan diskon tarif listrik untuk mendorong penggunaan chip lokal buatan Huawei dan Cambricon, meskipun chip tersebut relatif lebih boros energi dibandingkan produk Nvidia. Insentif listrik diberikan agar chip-chip tersebut tetap kompetitif dan digunakan secara luas.

 

Huang menyebut biaya listrik di China nyaris tidak menjadi beban bagi industri. Sebaliknya, di Amerika Serikat, munculnya berbagai aturan baru di tingkat negara bagian justru dinilai memperlambat laju inovasi karena menciptakan fragmentasi regulasi AI yang tidak efisien.

Sumber: kompas.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

TAG :