Pensiun dengan Harta Rp2.526 Triliun, Ini Pelajaran Investasi dari Warren Buffett

Investasi Digital - Diposting pada 14 January 2026 Waktu baca 5 menit

Investor legendaris asal Amerika Serikat, Warren Buffett, secara resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai CEO Berkshire Hathaway pada akhir 2025. Saat pensiun, ia meninggalkan perusahaan dengan valuasi melampaui US$1 triliun serta harta pribadi sekitar US$150 miliar atau setara Rp2.526,3 triliun dengan asumsi kurs Rp16.842 per dolar AS.

 

Pencapaian tersebut nyaris mustahil ditandingi, namun hal itu tidak menghentikan publik untuk terus mencari petuah tentang cara membangun kekayaan dari sosok yang dikenal sebagai Oracle of Omaha.

 

Dalam rapat umum pemegang saham Berkshire Hathaway tahun 1999, seorang investor pernah menanyakan bagaimana cara membangun kekayaan hingga US$30 miliar. Buffett menjawab singkat sambil tertawa, dengan menyarankan agar memulainya sejak usia muda.

 

Ia menggambarkan proses akumulasi kekayaan seperti bola salju yang menggelinding menuruni bukit panjang. Menurutnya, kekayaan tumbuh karena efek bunga majemuk yang bekerja layaknya bola salju—semakin lama menggelinding, semakin besar ukurannya.

 

Bunga majemuk sendiri merupakan mekanisme di mana keuntungan tidak hanya diperoleh dari modal awal, tetapi juga dari hasil investasi yang telah bertambah sebelumnya, sebuah konsep yang kerap disebut sebagai “keajaiban” dalam dunia investasi.

 

Buffett menekankan bahwa kunci membesarkan bola salju tersebut adalah memiliki bukit yang panjang, yang berarti memulai investasi sedini mungkin agar waktu bekerja maksimal.

 

Ia mengatakan bahwa jika kembali ke awal kariernya dengan modal US$10.000 setelah lulus kuliah, ia tetap akan menerapkan strategi yang sama, yakni berinvestasi pada perusahaan berkualitas yang dihargai di bawah nilai wajarnya.

 

Namun, seiring waktu, Buffett mengakui bahwa sebagian besar investor ritel tidak memiliki cukup waktu atau kemampuan analisis mendalam untuk menyusun portofolio saham individual yang mampu mengungguli pasar.

 

Karena itu, ia merekomendasikan reksa dana indeks S&P 500 sebagai pilihan terbaik bagi kebanyakan orang, sebagaimana ia sampaikan dalam rapat tahunan Berkshire Hathaway pada 2021.

 

Dengan strategi tersebut, seseorang memang tidak akan mencapai kekayaan setara Buffett, terlebih dengan modal awal US$10.000. Meski demikian, perhitungan bunga majemuk menunjukkan bahwa memperpanjang horizon investasi memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan aset dalam jangka panjang.

 

Sebagai ilustrasi, lulusan berusia 22 tahun yang menginvestasikan US$10.000 dengan imbal hasil rata-rata 8% per tahun dan menambah US$5.000 setiap tahun berpotensi memiliki portofolio lebih dari US$21 juta saat berusia 95 tahun. Jika investasi dimulai lima tahun lebih lambat, nilainya turun menjadi di bawah US$15 juta, dan penundaan sepuluh tahun memangkasnya menjadi kurang dari US$10 juta.

 

Walau angka tersebut masih jauh dari kekayaan Buffett—yang bahkan ia sebut sulit dibayangkan—Buffett menegaskan bahwa setelah kebutuhan hidup terpenuhi, besarnya kekayaan tidak lagi membawa arti besar.

 

Ia juga menyatakan bahwa waktu jauh lebih berharga daripada uang. Jika diberi pilihan untuk menukar sebagian besar hartanya dengan tambahan waktu hidup atau kebebasan menjalani hidup sesuai keinginannya, ia akan melakukannya tanpa ragu.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.