Asing Jual Saham Rp53,21 Triliun, BBCA hingga BRMS Jadi Target Net Sell Terbesar

Saham News - Diposting pada 29 June 2025 Waktu baca 5 menit

ILLUSTRASI

Arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia terus berlanjut selama enam bulan pertama tahun 2025. Sejumlah saham, seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) hingga PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), menjadi yang paling banyak dijual oleh investor asing.

 

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang tahun berjalan hingga akhir semester I/2025, tercatat aksi jual bersih (net sell) investor asing mencapai Rp53,21 triliun, dihitung sejak hari perdagangan pertama tahun ini.

 

Beberapa saham mencatat nilai jual bersih asing yang besar selama paruh pertama 2025. Misalnya, saham BBCA mencatat net sell asing tertinggi yakni sebesar Rp12,7 triliun. Disusul oleh saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) dengan nilai net sell asing sebesar Rp9,56 triliun pada periode yang sama. Saham BRMS juga mengalami tekanan jual dari investor asing dengan nilai net sell mencapai Rp4,39 triliun pada semester I/2025. Selain itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) turut mencatatkan net sell asing sebesar Rp4 triliun. Kemudian saham PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) juga mengalami net sell asing senilai Rp3,22 triliun.

 

Saham-saham lain yang mengalami net sell asing tinggi antara lain PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) dengan nilai Rp2,23 triliun, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) dengan Rp1,55 triliun, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) dengan net sell asing sebesar Rp1,51 triliun selama enam bulan pertama 2025.

 

Keluarnya dana asing ini terjadi bersamaan dengan lemahnya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang tercatat melemah 2,58% year to date (ytd), dari awal perdagangan 2025 hingga penutupan perdagangan 26 Juni 2025, pada posisi 6.897,4.

 

Pada akhir semester pertama 2025, aliran keluar dana asing semakin deras, didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik. Dalam sepekan terakhir perdagangan, tercatat net sell asing mencapai Rp4,51 triliun. Para investor masih mencemaskan dampak konflik antara Iran dan Israel terhadap kondisi ekonomi global.

 

“Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, investor lebih memilih strategi perdagangan jangka pendek,” kata Analis Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam riset terbarunya.

 

Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist dari Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa pergerakan dana asing di pasar saham Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah ketidakpastian seputar kebijakan tarif impor Amerika Serikat. Dari sisi domestik, dinamika pasar dipengaruhi oleh indikator ekonomi makro seperti indeks belanja konsumen.

 

“Ke depan, aliran dana asing diprediksi akan mengarah ke saham-saham di sektor yang menunjukkan potensi pertumbuhan. Untuk saat ini, para pelaku pasar cenderung mengambil sikap hati-hati,” tutup Nafan.

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.