Raja Salman Gelontorkan Rp97 Triliun! Investasi Jumbo Siap Guncang Pasar Indonesia

Investasi Digital - Diposting pada 26 July 2025 Waktu baca 5 menit

Arab Saudi menunjukkan komitmen serius dalam mendukung rekonstruksi Suriah pasca-perang. Negara di bawah pemerintahan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud berencana menanamkan investasi jumbo senilai US$4 miliar hingga US$6 miliar (setara Rp 65,2 triliun hingga Rp 97,8 triliun). Komitmen ini dilaporkan oleh Reuters pada Jumat (25/7/2025) dan muncul setelah kunjungan Menteri Investasi Saudi, Khalid bin Abdulaziz Al‑Falih, ke Damaskus bersama delegasi sekitar 130 pengusaha.

 

Kunjungan tersebut menjadi babak penting dalam pemulihan hubungan kedua negara. Arab Saudi menyatakan dukungan penuh terhadap pemerintahan baru Presiden Ahmed al‑Sharaa, yang menggantikan Bashar al‑Assad pada Desember lalu setelah 14 tahun perang saudara.

 

Menteri Informasi Suriah, Hamza al‑Mustafa, menyampaikan bahwa selama forum investasi itu akan ditandatangani 44 perjanjian antara Suriah dan Arab Saudi dengan total nilai hampir US$6 miliar. Perjanjian mencakup sektor energi, telekomunikasi, keuangan dan perbankan, dana investasi, serta sektor strategis lainnya. Beberapa kontrak melibatkan pemerintah maupun perusahaan swasta kedua negara Reuters.

 

Sebagai bagian dari kunjungan, Al‑Falih dan mitranya meresmikan pabrik semen putih pertama di Suriah, berlokasi di Adra Industrial City, senilai US$20 juta dari Northern Region Cement Co. dari Saudi yang akan mempekerjakan 130 orang langsung dan lebih dari 1.000 orang tidak langsung.

 

Di samping itu, Al‑Falih juga meluncurkan proyek ritel terintegrasi senilai 375 juta riyal Saudi (sekitar US$100 juta atau Rp 1,63 triliun) oleh Ethraa Holding, menunjukkan minat Saudi pada sektor konsumsi dan urbanisasi di Suriah. Arab Saudi juga tertarik berinvestasi di sektor energi, perhotelan, dan pengelolaan bandara. Kedua negara berencana membentuk Dewan Bisnis Bersama (Joint Business Council) untuk memperdalam kerja sama jangka panjang Reuters.

 

Meskipun kondisi masih tidak stabil, termasuk kekerasan sektarian di Sweida, sejumlah perusahaan dari Teluk dan Turki telah menyatakan minat membangun kembali pembangkit listrik, jalan, pelabuhan, dan infrastruktur strategis lainnya di Suriah. Suriah juga telah menandatangani kesepakatan listrik senilai USD 7 miliar dengan Qatar dan proyek pelabuhan USD 800 juta dengan DP World (UEA). Saudi bersama Qatar juga telah melunasi tunggakan Suriah ke Bank Dunia, membuka akses pendanaan baru bagi negara tersebut

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.