Bisnis | Ekonomi
Donald Trump Tak Gentar! Iran Perketat Penutupan Selat Hormuz-Dunia Waspada Dampaknya
/index.php
Edukasi - Diposting pada 26 July 2025 Waktu baca 5 menit
Fenomena FOMO Kembali Marak di Pasar Saham: Apa Dampaknya bagi Investor?
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan tertinggal momentum keuntungan kembali mencuat di kalangan investor ritel, seiring lonjakan harga saham unggulan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dorongan psikologis untuk segera membeli saham yang terus naik kerap menjadi jebakan yang berakhir dengan kerugian.
Apa Itu FOMO dan Mengapa Berisiko?
Menurut riset Journal of Behavioral Finance, FOMO adalah respons emosional yang mendorong seseorang mengambil keputusan investasi tanpa analisis mendalam karena melihat pihak lain meraih keuntungan besar. Dalam pasar modal, kondisi ini biasanya muncul saat harga saham melonjak tajam dalam waktu singkat.
“FOMO berpotensi mengaburkan rasionalitas investor. Banyak yang masuk di harga puncak hanya karena takut kehilangan peluang,” jelas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam edukasi pasar modal 2024.
Contoh Kasus: Reli Saham Teknologi dan Gelombang FOMO
Sejak awal 2025, saham sektor teknologi di BEI mencatat kenaikan signifikan, dengan beberapa emiten melesat lebih dari 100% hanya dalam enam bulan. Data IDX menunjukkan volume transaksi harian meningkat 25%, sejalan dengan lonjakan jumlah akun investor ritel baru.
Mengapa Investor Mudah Terjebak FOMO?
Efek Media Sosial – Grup saham di Telegram dan X (Twitter) mempercepat penyebaran euforia.
Confirmation Bias – Investor mencari informasi yang mendukung keputusan tanpa mempertimbangkan risiko.
Fear of Regret – Ketakutan menyesal karena tidak ikut masuk ketika orang lain meraih profit besar.
Studi Harvard Business Review menegaskan, keputusan impulsif akibat FOMO sering berakhir pada loss aversion, yaitu kerugian yang terasa lebih menyakitkan dibanding potensi keuntungan yang diharapkan.
Lima Cara Mengatasi FOMO Saat Saham Naik
Tetapkan Rencana Investasi Sebelum Masuk
Susun trading plan dengan target profit, batas risiko (stop-loss), dan jangka waktu investasi.
Fokus pada Analisis Fundamental & Teknikal
Dasarkan keputusan pada laporan keuangan, valuasi wajar (P/E ratio), dan tren teknikal, bukan rumor.
Gunakan Strategi Dollar-Cost Averaging (DCA)
Beli saham secara bertahap untuk mengurangi risiko masuk di harga tertinggi.
Batasi Pengaruh Media Sosial
Hindari mengikuti “signal trading” tanpa verifikasi. Gunakan sumber resmi seperti IDX dan OJK.
Disiplin Terapkan Stop-Loss
Tetapkan batas kerugian maksimal, misalnya 5–10%, agar tidak terjebak kerugian besar saat harga berbalik.
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.