Utang Luar Negeri RI Tembus Rp7.488 Triliun! Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 16 April 2026 Waktu baca 5 menit

Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$437,9 miliar atau setara Rp7.488 triliun dengan asumsi kurs Rp17.100. Nilai tersebut meningkat dibandingkan posisi Januari yang tercatat sebesar US$434,9 miliar. Secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh 2,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 1,7% (yoy), sebagaimana disampaikan Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso.

 

Denny menjelaskan bahwa kenaikan ULN pada Februari 2026 terutama disebabkan oleh peningkatan utang sektor publik, khususnya bank sentral, seiring masuknya aliran modal asing ke instrumen moneter berupa Sekuritas Rupiah BI (SRBI). Sementara itu, utang luar negeri sektor swasta justru mengalami penurunan.

 

Dari sisi sektor publik, posisi ULN pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar US$215,9 miliar atau tumbuh 5,5% (yoy). Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang. Berdasarkan penggunaannya, ULN pemerintah dialokasikan untuk berbagai sektor, antara lain sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,0%, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,3%, jasa pendidikan sebesar 16,2%, konstruksi sebesar 11,6%, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,5%.

 

Denny menambahkan bahwa ULN pemerintah didominasi oleh utang jangka panjang dengan porsi mencapai 99,98% dari total ULN pemerintah. Sementara itu, peningkatan ULN Bank Indonesia didorong oleh naiknya kepemilikan investor non-residen pada instrumen moneter yang diterbitkan BI, sejalan dengan kebijakan moneter yang pro-pasar serta upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

 

Di sisi lain, ULN swasta pada Februari 2026 tercatat sebesar US$193,7 miliar atau mengalami penurunan sebesar 0,7% (yoy). Penurunan ini dipengaruhi oleh kelompok peminjam dari sektor lembaga keuangan yang turun 2,8% (yoy) dan perusahaan non-keuangan yang turun 0,2% (yoy). Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta sektor pertambangan dan penggalian, dengan total pangsa mencapai 80,3% dari keseluruhan ULN swasta.

 

Selain itu, ULN swasta juga didominasi oleh utang jangka panjang dengan porsi sebesar 76,0% dari total ULN swasta. Bank Indonesia menilai struktur ULN Indonesia masih tergolong sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di level 29,8%, serta dominasi utang jangka panjang yang mencapai 84,9% dari total ULN.

 

Dalam menjaga kesehatan struktur ULN, BI bersama pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangannya. Selain itu, peran ULN akan terus dioptimalkan untuk mendukung pembiayaan pembangunan serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, dengan tetap meminimalkan berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas perekonomian.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.