Berita Terkini
Gelapkan Pajak Rp2,94 Miliar, Pengusaha Divonis 2 Tahun Penjara dan Denda Rp8,8 Miliar
/index.php
Investasi Digital - Diposting pada 19 February 2026 Waktu baca 5 menit
Harga emas dan perak kembali melonjak setelah sebelumnya mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut. Kenaikan harga emas menembus lebih dari 2% dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran geopolitik, meskipun di sisi lain para pejabat Federal Reserve (The Fed) masih berbeda pandangan terkait arah kebijakan suku bunga.
Pada perdagangan Rabu (18/2/2026), harga emas dunia melesat 2,09% ke level US$4.979,07 per troy ons, sekaligus menghentikan tren pelemahan yang terjadi dalam dua hari sebelumnya.
Namun pada perdagangan Kamis (19/2/2026) hingga pukul 06.19 WIB, harga emas spot global terkoreksi tipis 0,06% ke posisi US$4.976,2 per troy ons.
Lonjakan harga emas pada Rabu terjadi karena pelaku pasar mempertimbangkan risiko geopolitik yang semakin meningkat, meskipun risalah rapat The Fed bulan Januari menunjukkan adanya perbedaan pendapat di antara pejabat terkait apakah suku bunga perlu kembali dinaikkan atau tetap dipertahankan.
Analis Marex, Edward Meir, menyebutkan bahwa terdapat kekhawatiran atas ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa sepanjang Februari pasar bergerak dalam rentang yang relatif sempit sehingga belum terlihat arah pergerakan yang benar-benar jelas.
Dari sisi geopolitik, perundingan damai selama dua hari di Jenewa antara Ukraina dan Rusia berakhir tanpa menghasilkan terobosan. Gedung Putih juga menyampaikan bahwa pembahasan dengan Iran di Jenewa hanya mencatat kemajuan terbatas, dengan sejumlah perbedaan yang masih tersisa dan Teheran diperkirakan akan kembali membawa rincian tambahan dalam beberapa pekan mendatang.
Risalah pertemuan The Fed Januari memperlihatkan bahwa hampir seluruh pejabat sepakat mempertahankan suku bunga tetap stabil bulan lalu. Namun, mereka masih berbeda pandangan mengenai prospek ke depan. Sebagian pejabat memperingatkan bahwa suku bunga dapat kembali naik apabila inflasi tetap tinggi, sementara yang lain mempertimbangkan apakah dan kapan pemangkasan suku bunga lanjutan diperlukan.
Pedagang logam independen Tai Wong memperkirakan harga emas berpotensi kembali menembus US$5.000 per troy ons meskipun risalah The Fed bernada agak hawkish, karena mayoritas pelaku pasar tidak memperkirakan perubahan suku bunga sebelum Juni.
Sementara itu, data inflasi harga konsumen Januari tercatat lebih rendah dari perkiraan, namun pertumbuhan lapangan kerja melampaui ekspektasi dan tingkat pengangguran mengalami penurunan.
Pelaku pasar juga menantikan laporan pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Amerika Serikat pada Jumat mendatang, yang merupakan indikator inflasi pilihan The Fed, guna memperoleh gambaran lebih lanjut mengenai tekanan inflasi dan dampaknya terhadap biaya pinjaman.
Sebagai aset safe haven yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.
Di sisi lain, harga perak juga kembali menguat setelah sebelumnya tertekan selama dua hari berturut-turut. Pada perdagangan Rabu (18/2/2026), harga perak melonjak 5,07% menjadi US$77,18 per troy ons, sekaligus mengakhiri tren pelemahan dua hari sebelumnya.
Pada perdagangan Kamis (19/2/2026) hingga pukul 06.19 WIB, harga perak spot dunia kembali naik 0,42% ke level US$77,5 per troy ons.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.