Saham News
IHSG Dibuka Menguat Usai Hasil Pertemuan MSCI Disambut Positif Pasar
/index.php
Teknologi Terkini - Diposting pada 12 February 2026 Waktu baca 5 menit
Perusahaan teknologi pengembang mobil otonom Waymo mengungkapkan bahwa dalam situasi tertentu, layanan taksi tanpa pengemudinya atau robotaxi memperoleh dukungan dari operator jarak jauh, yakni manusia yang sebagian berbasis di Filipina.
Fakta tersebut disampaikan dalam sidang Senat Amerika Serikat pada 4 Februari 2026 oleh Kepala Keselamatan Waymo, Mauricio Pena.
Para senator AS baru mengetahui hal ini ketika terungkap bahwa pada kondisi tertentu sistem komputer kendaraan tersebut mengalami keraguan dan kemungkinan meminta arahan dari individu yang berada di negara lain. Pengakuan ini kembali menegaskan bahwa bahkan teknologi kecerdasan buatan paling mutakhir sekalipun masih membutuhkan campur tangan manusia.
Pena menyampaikan keterangan tersebut saat memberikan kesaksian di hadapan Komite Senat AS bersama perwakilan Tesla dan pelaku industri kendaraan otonom lainnya. Dalam sidang itu, Senator Edward Markey menyatakan bahwa ketika kendaraan otonom menghadapi situasi yang tidak mampu diatasi sendiri, Waymo akan menghubungi “rekan manusia” untuk memperoleh bantuan.
Markey menggambarkan sistem tersebut sebagai mekanisme operator bantuan jarak jauh yang sebagian besar tidak transparan, meskipun memiliki peran penting dalam aspek keselamatan kendaraan namun tidak terlihat oleh publik. Sementara itu, Pena menegaskan bahwa para pekerja tersebut tidak mengambil alih kendali mobil dan menekankan bahwa sistem Waymo tetap memegang tanggung jawab penuh atas seluruh keputusan berkendara.
“Mereka memberikan arahan. Mereka tidak mengendalikan kendaraan dari jarak jauh. Waymo selalu bertanggung jawab atas tugas mengemudi dinamis,” ujar Pena seperti dikutip dari The Straits Times, Rabu (11/2/2026).
Ketika kembali ditekan oleh Markey terkait lokasi para asisten manusia tersebut, Pena menjelaskan bahwa sebagian berada di Amerika Serikat dan sebagian lainnya di luar negeri. Ia kemudian menyebut Filipina sebagai salah satu lokasi pekerja luar negeri tersebut, namun mengaku tidak memiliki data pasti mengenai jumlah distribusinya.
Pengakuan ini langsung memicu kekhawatiran dari Markey, yang menilai isu tersebut menyangkut aspek keselamatan, keamanan, dan ketenagakerjaan. “Adanya individu di luar negeri yang memengaruhi kendaraan Amerika merupakan persoalan keamanan,” ujarnya.
Markey juga menyoroti potensi keterlambatan komunikasi, kurangnya pemahaman terhadap kondisi jalan di AS, serta risiko keamanan siber. Pernyataan ini muncul kurang dari dua minggu setelah insiden robotaxi Waymo yang menabrak seorang anak hingga mengalami luka ringan di depan sebuah sekolah dasar di California pada 23 Januari 2026.
Menanggapi kejadian itu, Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS telah meluncurkan sejumlah penyelidikan atas beberapa insiden kendaraan Waymo yang melintas di dekat bus sekolah ketika siswa sedang naik atau turun.
Saat ini, Waymo telah mengoperasikan layanan kendaraan otonomnya di Phoenix, San Francisco, Los Angeles, dan Austin.
Selain itu, perusahaan robotaxi rintisan milik Alphabet—perusahaan induk Google—tersebut juga mengumumkan rencana ekspansi ke kota-kota lain seperti Boston, Dallas, Washington DC, hingga London di Inggris.
Berdasarkan data terbaru pada awal 2026, armada kendaraan otonom Waymo yang sebagian besar berupa robotaxi diperkirakan mencapai sekitar 2.500 unit.
Sumber: bloombergtechnoz.com/
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.