Bisnis | Ekonomi
Donald Trump Tak Gentar! Iran Perketat Penutupan Selat Hormuz-Dunia Waspada Dampaknya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 09 June 2025 Waktu baca 5 menit
Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed, melaporkan adanya potensi kerugian sebesar US$ 1 triliun dari aktivitas pengelolaan aset berupa surat berharga.
Menurut laporan dari Reuters yang merujuk pada dokumen Federal Reserve Bank of New York, kerugian tersebut belum direalisasikan dan berasal dari kepemilikan surat berharga selama tahun lalu.
Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa kerugian belum terealisasi sebesar US$ 1,06 triliun pada tahun 2024 berasal dari portofolio surat berharga dan uang tunai milik The Fed yang dikelola melalui System Open Market Account (SOMA).
"Jumlah kerugian belum terealisasi ini sedikit lebih tinggi dibandingkan kerugian pada tahun 2023 yang mencapai US$ 948,4 miliar," demikian dikutip dari Reuters, Senin (9/6/2025).
Kerugian pada tahun 2024 tersebut dipicu oleh kenaikan suku bunga pasar di sepanjang kurva imbal hasil. Meskipun begitu, sebagian dampak tersebut berhasil diredam oleh pengurangan kepemilikan obligasi oleh The Fed.
The Fed mencatat bahwa kerugian belum terealisasi ini adalah selisih antara nilai tercatat surat berharga yang dimiliki dan harga pasar saat ini.
Namun, kerugian ini hanya terjadi secara akuntansi dan tidak berdampak langsung terhadap pelaksanaan kebijakan moneter. Oleh karena itu, tidak dianggap sebagai isu yang mengkhawatirkan karena The Fed umumnya memegang obligasi tersebut hingga jatuh tempo.
“Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa kerugian belum terealisasi dari aset yang dimiliki The Fed kemungkinan besar akan tetap ada selama beberapa tahun ke depan,” tulis Reuters.
Sebagai informasi, neraca keuangan The Fed telah mengalami ekspansi signifikan dalam beberapa tahun terakhir, bahkan sempat menyentuh angka US$ 9 triliun pada 2022, atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Perluasan neraca tersebut terjadi karena The Fed melakukan pembelian besar-besaran atas surat utang negara dan sekuritas berbasis hipotek guna menstabilkan pasar serta memberikan stimulus selama masa pandemi. Saat ini, ukuran neraca tersebut telah berkurang dan berada di kisaran US$ 6,7 triliun.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.