Perang Dingin Baru Trump vs Putin Picu Kekhawatiran Investor Indonesia

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 15 July 2025 Waktu baca 5 menit

Ilustrasi. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin berjanji membalas serangan Ukraina. (Foto: AFP/Yuri Kadobnov)

Pasar keuangan Indonesia pada perdagangan hari Senin (14 Juli 2025) menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau, sementara nilai tukar rupiah dan pasar obligasi mengalami pelemahan.

 

Hari ini, pasar diperkirakan bergerak cukup fluktuatif, dipengaruhi oleh kebijakan tarif baru yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Informasi lengkap mengenai sentimen pasar ini dapat ditemukan di halaman 3 artikel.

 

Pada perdagangan kemarin, IHSG menguat sebesar 0,71% dan ditutup pada level 7.097,15, menandai penguatan selama lima hari berturut-turut.

 

Volume perdagangan tergolong aktif dengan total transaksi mencapai Rp19,07 triliun, melibatkan 24,29 miliar lembar saham dari 1,78 juta transaksi. Sebanyak 188 saham menguat, 418 saham melemah, dan 198 saham stagnan.

 

Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp1,13 triliun.

Penguatan IHSG terutama didorong oleh saham-saham dalam grup konglomerasi milik Prajogo Pangestu.

 

Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) naik hingga menyentuh Auto Reject Atas (ARA) dan menjadi penopang utama IHSG dengan kontribusi sebesar 45,54 poin.

 

Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) masing-masing menyumbang 18,66 dan 10,19 poin indeks.

 

Kontribusi lain berasal dari PT Petrosea Tbk (PTRO) yang menambah 5,29 poin dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar 5,06 poin, termasuk anak usahanya PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang baru IPO menyumbang 3,04 poin.

 

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah berada di level Rp16.240 per dolar AS, melemah 0,22% dan mengakhiri tren penguatan dua hari sebelumnya.

 

Pelemahan ini salah satunya dipicu oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) yang mencapai level tertinggi dalam hampir tiga minggu.

 

Penguatan DXY terjadi seiring meningkatnya ketegangan tarif setelah Presiden Trump pada Sabtu (12 Juli) mengumumkan tarif 30% atas Uni Eropa dan Meksiko. Sehari sebelumnya, Trump juga mengenakan tarif 35% pada Kanada, efektif mulai 1 Agustus 2025.

 

Trump juga menaikkan batas bawah tarif dari 10% menjadi 15-20% terhadap sejumlah negara lain. Kebijakan ini menunjukkan kecenderungan berlanjutnya proteksionisme, mendorong investor beralih ke aset safe haven.

Di pasar obligasi, terjadi aksi jual tipis.

 

Yield obligasi pemerintah RI tenor 10 tahun naik ke level 6,58%, meningkat kurang dari 1 basis poin. Sebagai catatan, harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah.

 

Sementara itu, di bursa AS, Wall Street ditutup menguat tipis meski ada ancaman tarif tambahan dari Trump.

 

Investor optimistis bahwa tarif ini masih bisa dinegosiasikan dan menantikan musim laporan keuangan kuartal kedua.

S&P 500 naik 0,14% ke 6.268,56, Nasdaq naik 0,27% ke 20.640,33, dan Dow Jones naik 0,20% atau 88,14 poin ke 44.459,65.

 

Investor mencermati langkah Trump yang akan menerapkan tarif 30% ke Uni Eropa dan Meksiko mulai 1 Agustus.

Pemimpin UE dan Meksiko menyatakan keinginan untuk terus berdialog dengan AS guna mencari solusi tarif yang lebih ringan.

 

Langkah Trump diumumkan menjelang rilis data inflasi AS, yang menjadi acuan penting bagi investor untuk menilai dampak kebijakan tarif tersebut.

Selain itu, fokus juga tertuju pada laporan keuangan sejumlah perusahaan besar seperti JPMorgan Chase.

 

"Pertanyaan penting untuk pasar dalam beberapa minggu ke depan adalah apakah laba perusahaan yang solid dapat mengimbangi sentimen negatif dari isu tarif," kata Glen Smith dari GDS Wealth Management kepada CNBC.

Investor juga mengamati ketegangan antara Trump dan Federal Reserve.

 

Pada Minggu, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett menyatakan bahwa Trump bisa memecat Ketua The Fed Jerome Powell jika terdapat alasan kuat.

 

Trump mengkritik proyek renovasi gedung The Fed yang dinilai terlalu mahal, dengan biaya mencapai US$ 2,5 miliar.

Powell meminta Inspektur Jenderal melakukan audit terhadap anggaran proyek tersebut. The Fed menyatakan renovasi mencakup bangunan bersejarah yang berusia hampir 100 tahun.

 

Perlu diingat, The Fed memiliki independensi dari pemerintah federal dan tidak menerima dana dari APBN.

Dari kawasan regional, China hari ini akan merilis data PDB kuartal II 2025, yang diperkirakan tumbuh 5,1% yoy, melambat dari kuartal sebelumnya 5,4%.

 

China juga mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$114,77 miliar di bulan Juni, lebih tinggi dari tahun lalu dan ekspektasi pasar.

Ekspor tumbuh 5,8% yoy, sementara impor naik 1,1% yoy setelah sempat turun.

Surplus perdagangan China dengan AS naik menjadi US$26,57 miliar. Namun, ekspor dan impor kedua negara turun masing-masing 16,1% dan 15,5%.

 

Secara kumulatif, surplus perdagangan China mencapai US$586 miliar pada semester I 2025.

 

Di dalam negeri, BPS akan mengumumkan data kemiskinan semester I-2025 dan ketimpangan pengeluaran penduduk.

Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) untuk menentukan kebijakan suku bunga.

 

Dalam RDG sebelumnya, BI mempertahankan BI-Rate di level 5,50% dengan mempertimbangkan stabilitas nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Data inflasi AS bulan Juni akan dirilis pada Selasa. IHK diprediksi naik 0,3%, tertinggi dalam lima bulan. Inflasi inti tahunan diperkirakan naik menjadi 2,9%.

 

Para ekonom memperkirakan inflasi akan meningkat perlahan, namun terbatas oleh konsumen yang masih menahan belanja.

 

Penjualan ritel bulan Juni diperkirakan naik tipis setelah dua bulan sebelumnya menurun. Data ini akan menjadi acuan untuk proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II.

 

Pejabat The Fed menunda penurunan suku bunga karena khawatir tarif tinggi bisa memicu inflasi lebih lanjut. Rapat The Fed dijadwalkan pada 29-30 Juli.

Agenda Penting Hari Ini:

  • Rilis PDB China Q2 2025

  • Retail Sales & Pengangguran China

  • Inflasi AS Juni 2025

  • Briefing Kepala Komunikasi Kepresidenan

  • Rapat Koordinasi Koperasi Merah Putih

  • Rakernis Ditjen PRL KKP

  • Rilis Data Kemiskinan BPS

  • Rapat Paripurna DPR dan Banggar DPR

  • Rapat Komisi VI DPR dengan Perumnas & PTPP

  • Pemeriksaan Mantan Mendikbud di Kejagung

  • Acara TikTok Simpati oleh Telkomsel

  • Agenda Emiten: Ex-date CUAN, right issue WIFI, tender offer CNTX/INRU/MASA, RUPS beberapa emiten

 

Indikator Ekonomi Indonesia Terkini:

  • Pertumbuhan Ekonomi Q1 2025: 4,87% YoY

  • Inflasi Juni 2025: 1,87% YoY

  • BI-Rate: 5,50%

  • Defisit APBN Juni 2025: 0,81% dari PDB

  • Defisit Transaksi Berjalan Q1 2025: 0,1% dari PDB

  • Defisit Neraca Pembayaran Q1 2025: US$800 juta

  • Cadangan Devisa Juni 2025: US$152,6 miliar

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.