Crypto News
Terungkap! Siapa Pemilik Bitcoin Terbesar 2026? Ini Daftar & Fakta Mengejutkannya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 15 July 2025 Waktu baca 5 menit
Ekspor Tiongkok menunjukkan lonjakan besar pada bulan Juni 2025, disertai dengan pemulihan impor yang mengejutkan. Capaian perdagangan ini memberi dorongan tak terduga bagi perekonomian China, tepat ketika batas waktu negosiasi tarif dengan Amerika Serikat semakin dekat.
Berdasarkan data dari Otoritas Bea Cukai China yang dirilis pada Senin (14 Juli), neraca perdagangan China mencatat surplus sebesar USD114,8 miliar atau setara dengan Rp1.868 triliun pada bulan Juni. Angka tersebut meningkat dibandingkan surplus sebesar USD103,2 miliar pada bulan Mei dan USD98,94 miliar pada Juni tahun lalu, serta melebihi proyeksi analis yang memperkirakan surplus hanya USD109 miliar. Ekspor naik sebesar 5,8% secara tahunan, meningkat dari pertumbuhan 4,8% pada Mei, dan juga melampaui ekspektasi pasar. Di sisi lain, impor juga berbalik arah, tumbuh 1,1% setelah sebelumnya turun 3,4% pada bulan sebelumnya.
Peningkatan ekspor dan impor yang mengejutkan ini terjadi di tengah mencairnya hubungan dagang antara China dan Amerika Serikat. Kedua negara sedang mengejar kesepakatan sebelum batas waktu 12 Agustus. Para analis menyebut lonjakan ekspor didorong oleh langkah eksportir Tiongkok yang mempercepat pengiriman untuk memanfaatkan jeda tarif sementara. Sebelumnya, permintaan ekspor sempat melemah pada Mei akibat dampak perang dagang.
Kenaikan ekspor didominasi oleh pengiriman ke negara-negara selain Amerika Serikat. Justru, ekspor dan impor antara China dan AS menurun masing-masing sebesar 16,1% dan 15,5%. Walau begitu, penurunan ini tidak sedalam bulan Mei, ketika masing-masing turun 34,5% dan 18,1%. Hubungan kedua negara sempat mencair setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata tarif pada awal Mei. Dalam perundingan yang berlangsung di Jenewa, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Perwakilan Dagang Jamieson Greer bertemu delegasi China dan sepakat untuk menurunkan tarif serta menyusun kerangka perundingan lanjutan. Namun, gencatan tarif ini dijadwalkan berakhir pada 12 Agustus, dan masing-masing pihak masih saling menyalahkan atas pelanggaran kesepakatan. Selain janji China untuk meningkatkan ekspor logam tanah jarang dan AS yang berjanji melonggarkan pembatasan perdagangan, belum ada kemajuan berarti dalam proses negosiasi lanjutan.
Shang-Jin Wei, profesor bisnis dan ekonomi China di Columbia Business School, menilai percepatan ekspor menjelang tenggat waktu tarif menjadi pendorong utama meningkatnya surplus perdagangan. Ia juga menambahkan bahwa lemahnya konsumsi domestik turut mempengaruhi rendahnya angka impor.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menandatangani kesepakatan dengan Vietnam yang memberlakukan tarif 20% terhadap barang-barang dari negara tersebut. Namun, tarif 40% akan diterapkan pada produk yang dicurigai sebagai hasil pengalihan dari China ke AS melalui Vietnam. Para analis memperingatkan bahwa celah ini dapat mengurangi efektivitas tarif terhadap China dan menambah tekanan pada eksportir Tiongkok.
Data juga menunjukkan ekspor China ke Vietnam naik tajam sebesar 23,8% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara impor dari Vietnam turun sebesar 13,7%.
"AS dan China masih memiliki peluang besar untuk mencapai kesepakatan sebelum 12 Agustus karena kedua pihak sama-sama menginginkannya," ujar Dr. Wei dalam wawancara dengan Newsweek pada Senin (14 Juli). Namun ia mengingatkan bahwa dengan gaya kepemimpinan Presiden Trump yang seringkali mengajukan tuntutan baru secara tiba-tiba, kesepakatan masih bisa gagal kapan saja.
Ekonom Bloomberg, Eric Zhu, menyebut lonjakan ekspor China pada bulan Juni dipicu oleh pulihnya pengiriman ke AS setelah ketegangan tarif mereda. Namun ia memperingatkan bahwa situasi ini bisa bersifat sementara. China dijadwalkan merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2025 pada Selasa (15 Juli), yang diperkirakan tumbuh 5,1% secara tahunan — lebih rendah dari pertumbuhan 5,4% di kuartal pertama.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio baru saja mengadakan pertemuan dengan Menlu China, yang oleh Kementerian Luar Negeri AS disebut sebagai pembicaraan yang "konstruktif dan pragmatis." Rubio menyebutkan bahwa pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping sangat mungkin terjadi, meskipun belum ada tanggal yang ditentukan.
Sumber: sindonews.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.