Pakar UI Desak RI Hentikan Negosiasi Tarif 32% dengan Trump, Ini Alasannya!

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 10 July 2025 Waktu baca 5 menit

Pakar hukum internasional dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menyerukan agar Indonesia membatalkan proses negosiasi dengan Amerika Serikat menyusul keputusan Presiden AS, Donald Trump, yang menetapkan tarif sebesar 32% terhadap produk asal Indonesia. Hikmahanto mempertanyakan urgensi dari perundingan yang akan dilakukan jika keputusan tarif sudah dijatuhkan.

 

“Menurut saya, Bapak Menko tidak perlu hadir dalam pertemuan tersebut. Jika beliau sudah berada di Amerika, sebaiknya segera batalkan pertemuan dengan pihak AS. Alasannya jelas—karena surat resmi dari Presiden Trump telah diterbitkan dan menyatakan bahwa Indonesia akan dikenai tarif 32%. Maka pertanyaannya, apa lagi yang mau dinegosiasikan?” ujar Hikmahanto kepada media pada Rabu (9 Juli 2025).

 

Lebih lanjut, Hikmahanto menilai bahwa Trump telah menyampaikan ancaman eksplisit kepada negara-negara anggota BRICS. Ia menyarankan agar Indonesia menghentikan proses negosiasi, terutama karena AS juga mengindikasikan akan mengenakan tambahan tarif 10% terhadap negara-negara BRICS, yang berarti total tarif dapat mencapai 42%.

 

“Coba kita pikir, apakah kita akan menyatakan mundur dari BRICS demi meredakan tarif ini? Tentu tidak masuk akal. Karena itu, saya sangat menyarankan Pak Menko agar membatalkan pertemuan dengan siapa pun perwakilan AS, dan segera kembali ke tanah air,” tegasnya.

 

Meski begitu, Hikmahanto menilai bahwa keputusan tarif yang diambil oleh Trump kemungkinan besar akan menghadapi penolakan di dalam negeri Amerika Serikat. Oleh karena itu, ia meminta Indonesia tidak bereaksi secara emosional.

 

“Kita tunggu saja hingga 1 Agustus, apakah benar tarif itu akan diberlakukan? Bisa saja kebijakan tersebut mendapat penolakan dari pasar dan institusi di Amerika Serikat, yang memaksa Trump untuk menariknya kembali. Jadi menurut saya, tidak perlu panik ataupun tergesa-gesa dalam merespons,” ujarnya.

 

Ia juga menganjurkan agar Indonesia membentuk koalisi dengan negara-negara lain guna menghadapi kebijakan tarif Trump. Menurut Hikmahanto, kerja sama multilateral dapat menciptakan persepsi bahwa AS merupakan ‘musuh bersama’.

 

“Saat surat pengenaan tarif diterbitkan secara bilateral, banyak negara kemudian merasa bahwa mereka memiliki musuh bersama, yakni Trump. Ini sempat terjadi sebelumnya dan mendorong perlawanan secara kolektif dari berbagai negara,” jelasnya.

 

Ia menambahkan bahwa Indonesia bisa mulai membangun aliansi tersebut bersama negara-negara tetangga. Hikmahanto menyatakan bahwa tekanan bersama dari banyak negara dapat menggoyahkan kondisi domestik di AS.

 

“Kalau kita bersatu dan membentuk aliansi, maka yang akan paling terdampak justru masyarakat Amerika. Mereka lah yang akan menanggung beban dari tarif tinggi ini. Biarkan rakyat Amerika sendiri yang menilai dan menentukan masa depan Trump. Sekali lagi saya katakan, lebih baik kita menunggu dan tidak perlu menghadiri pertemuan dengan AS,” pungkasnya.

 

Sebelumnya, Presiden Trump memperingatkan bahwa jika Indonesia mencoba membalas kebijakan tarif AS, maka tarif tambahan yang lebih tinggi dari 32% akan dikenakan.

 

Peringatan ini tertuang dalam surat resmi dari Washington yang ditandatangani Trump dan ditujukan kepada Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Dalam surat tersebut, Trump meminta pemerintah Indonesia memahami alasan di balik pengenaan tarif 32% terhadap seluruh produk asal Indonesia yang masuk ke pasar AS.

 

“Jika karena alasan tertentu Anda memilih untuk menaikkan tarif terhadap produk-produk dari Amerika Serikat, maka kenaikan itu akan ditambahkan ke tarif 32% yang sudah kami tetapkan,” tulis Trump dalam surat tersebut, dikutip Selasa (8 Juli).

 

Trump menjelaskan bahwa kebijakan tarif ini diambil sebagai respons atas ketidakseimbangan dalam hubungan dagang antara AS dan Indonesia. Menurutnya, ketimpangan ini telah menyebabkan defisit perdagangan yang dinilai sebagai ancaman serius terhadap perekonomian dan keamanan nasional AS.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.