Harga Tekstil Naik 15%! Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 30 March 2026 Waktu baca 5 menit

Pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk perusahaan yang memproduksi serat dan benang filamen, ikut terdampak oleh konflik di Timur Tengah yang menyebabkan kenaikan harga bahan baku polyester.

 

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menjelaskan bahwa bahan baku utama polyester terdampak karena berasal dari produk petrokimia yang merupakan turunan dari minyak bumi dan gas.

 

Ia menyebutkan bahwa dampak langsung terlihat pada kenaikan harga paraxylene (PX), purified terephthalic acid (PTA), dan monoethylene glycol (MEG) sebagai bahan utama polyester, yang saat ini telah meningkat sekitar 15%.

 

Menurutnya, sektor hulu industri tekstil sebenarnya masih mampu mengoptimalkan produksi dalam negeri. Namun, kebutuhan yang masih harus dipenuhi melalui impor terutama meliputi kapas, serta sebagian kecil PX dan MEG.

 

Akan tetapi, jika ketidakpastian geopolitik terus berlanjut, pasokan bahan baku impor berisiko mengalami gangguan. Oleh karena itu, kondisi ini perlu diantisipasi dengan meningkatkan suplai dari dalam negeri.

 

Sementara itu, pada sektor antara atau bagian tengah dalam rantai produksi tekstil, pelaku usaha juga dinilai mampu meningkatkan produksi domestik guna mengurangi ketergantungan terhadap impor, terutama saat harga bahan baku global mengalami kenaikan.

 

Sayangnya, produsen dalam negeri masih enggan menambah produksi karena bersikap hati-hati terhadap kondisi pasar saat ini.

 

Ia mengungkapkan bahwa produsen lokal belum sepenuhnya yakin terhadap situasi yang ada, terlebih karena belum adanya kepastian dan dukungan pemerintah terhadap produksi dalam negeri ke depan.

 

Redma menegaskan bahwa dari segi kapasitas dan kualitas, industri tekstil nasional sebenarnya sangat mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan jaminan dari pemerintah agar keberlangsungan pasar tekstil nasional tetap terjaga.

 

Di tengah ketidakpastian global, produsen tekstil hulu yang masih beroperasi terus berusaha menjaga tingkat utilisasi pabrik di atas 70% demi mempertahankan kelayakan ekonomi usaha.

 

Meskipun demikian, tingkat utilisasi secara nasional masih berada di kisaran 45%.

Sumber: kontan.co.id

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.