Saham News
IHSG Masih Merah, Tapi Saham Ini Justru Menarik Diburu-Peluang di Tengah Tekanan
/index.php
Teknologi Terkini - Diposting pada 28 January 2025 Waktu baca 5 menit
DIGIVESTASI - Baru-baru ini, DeepSeek R1 menjadi perbincangan hangat sebagai pesaing serius ChatGPT. Lantas, apa sebenarnya DeepSeek R1 ini?
DeepSeek, aplikasi chatbot berbasis kecerdasan buatan asal China, kini mencuri perhatian dengan menjadi kompetitor utama bagi perusahaan-perusahaan seperti Meta AI dan ChatGPT.
Menurut laporan BBC pada Senin (27/1/2025), aplikasi ini telah meraih posisi teratas sebagai aplikasi yang paling banyak diunduh di App Store di AS, Inggris, dan China sejak pertama kali dirilis pada tahun 2023.
Melonjaknya popularitas DeepSeek menjadi indikasi adanya tantangan terhadap dominasi AS yang sebelumnya dipandang sebagai pemimpin dalam industri AI.
Berbeda dengan para pesaingnya, DeepSeek memanfaatkan chip canggih yang tidak diimpor dari AS, memungkinkan terciptanya aplikasi AI dengan komputasi yang lebih rendah dan biaya yang lebih efisien. Inovasi ini diprediksi dapat mengubah industri AI yang telah ada dan sekaligus mengancam posisi perusahaan-perusahaan AI besar dari AS, seperti OpenAI.
Apa itu DeepSeek?
DeepSeek merupakan perusahaan rintisan yang didirikan di Hangzhou, China pada 2023 oleh Liang Wenfeng, melalui perusahaan berbasis AI, High-Flyer. Liang, yang lahir pada tahun 1985, memiliki gelar di bidang teknik elektronik dan informasi dari Zhejiang University.
Sejak didirikan pada 2015, High-Flyer fokus pada komputasi canggih untuk menganalisis data keuangan. Namun, pada 2023, Liang memutuskan untuk mengalihkan fokus perusahaan untuk menciptakan DeepSeek, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk mengembangkan model AI inovatif. Perusahaan ini berdiri dengan modal terdaftar hanya 10 juta yuan (sekitar Rp 22,3 miliar), menurut data dari perusahaan Tianyancha.
Pihak Nvidia pun memberikan pujian atas keberhasilan DeepSeek. “DeepSeek adalah langkah besar dalam perkembangan AI dan contoh yang luar biasa dalam hal percepatan waktu pengujian,” ujar Nvidia dalam pernyataan resmi yang dikirimkan kepada CBS News. Nvidia menambahkan bahwa pencapaian DeepSeek ini menunjukkan bagaimana model-model baru bisa dikembangkan dengan teknik yang memanfaatkan model yang sudah ada dan komputasi yang patuh terhadap kontrol ekspor. Namun, Nvidia juga mengingatkan bahwa inferensi AI memerlukan sejumlah besar GPU dan jaringan berkinerja tinggi untuk dapat berfungsi optimal.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: suara.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.