Bisakah Prabowo Realisasikan Impian Soekarno untuk Pembangkit Nuklir Indonesia?

Teknologi Terkini - Diposting pada 28 January 2025 Waktu baca 5 menit

illustrasi

DIGIVESTASI - Upaya pemerintah dalam menghadirkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) kini menjadi sorotan sebagai strategi memperkuat ketahanan energi sekaligus mempercepat transisi energi nasional. Namun, pertanyaannya muncul: apakah ini murni untuk mengejar ketahanan energi atau sekadar mengikuti tren global?

 

Wacana pengembangan energi nuklir telah digagas sejak era Presiden pertama RI, Sukarno, yang mendirikan Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), sebelumnya dikenal sebagai Lembaga Tenaga Atom. Meski hampir delapan dekade berlalu sejak Indonesia merdeka, realisasi teknologi nuklir untuk energi belum optimal. Mungkinkah Presiden ke-8 RI, Prabowo Subianto, mampu mewujudkan cita-cita tersebut?

 

Baru-baru ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan percepatan target pembangunan PLTN, yang sebelumnya direncanakan pada 2032, menjadi 2029. Langkah ini selaras dengan rencana penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 443 gigawatt (GW) dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2025-2060. "Pengembangan pembangkit nuklir akan dipercepat dalam rentang 2029-2032," ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung, Kamis (23/1/2025).

 

Target ambisius tersebut juga dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan mencapai 8% pada 2029. Dari total kapasitas pembangkit listrik sebesar 443 GW tersebut, sekitar 79% direncanakan berasal dari energi baru terbarukan (EBT). Namun, meskipun PLTN masuk dalam RUKN 2025-2060, hingga saat ini belum ada investor yang berminat untuk mendukung pengembangannya.

 

PLTN dirancang untuk menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebagai bagian dari rencana besar pemerintah. Dalam rancangan Kebijakan Energi Nasional (KEN), terdapat dua skenario pengurangan bertahap PLTU dengan PLTN: skenario rendah dengan target 45 megawatt (MW) hingga 2060 dan skenario tinggi dengan target 54 MW pada periode yang sama.

 

Praktisi energi Satya Widya Yudha menyebutkan bahwa PLTN adalah opsi strategis untuk menggantikan PLTU. Teknologi ini dianggap penting untuk mendongkrak bauran energi secara signifikan, selain mengembangkan potensi energi lainnya seperti biomassa. “PLTN perlu dimasukkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 agar target bauran energi bisa tercapai,” katanya.

 

Proyeksi global menunjukkan antusiasme yang besar terhadap nuklir. Menurut Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), kapasitas pembangkit tenaga nuklir dunia diperkirakan meningkat 2,5 kali lipat pada 2050 dibandingkan 2024. Bahkan, hasil Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP28) menempatkan energi nuklir sebagai bagian dari Global Stocktake, menyerukan percepatan adopsi teknologi rendah emisi untuk mendukung dekarbonisasi yang mendalam.

 

Eropa kini menaruh perhatian lebih pada PLTN untuk mengatasi pemanasan global dan menjaga pasokan energi. Di Amerika Serikat, sejumlah perusahaan teknologi besar mulai memanfaatkan tenaga nuklir sebagai sumber energi ramah lingkungan. World Nuclear Association mencatat ada sekitar 440 reaktor nuklir yang beroperasi di 32 negara dan Taiwan, dengan total kapasitas sekitar 390 gigawatt elektrik (GWe). Pada 2023, reaktor ini menghasilkan 2.602 TWh atau sekitar 9% kebutuhan listrik dunia. Hingga 2025, setidaknya ada 14 PLTN di negara seperti Bangladesh, China, dan Turki yang akan menambah kapasitas global sebesar 14,24 GWe.

 

Zainal Arifin, staf pengajar di Institut Teknologi PLN, menilai pengembangan PLTN di Indonesia membutuhkan inovasi untuk meminimalkan penggunaan sumber daya seperti air baku tanpa mengurangi keandalan produksi listrik, keamanan, maupun efisiensi lingkungan. “Indonesia bisa belajar dari Finlandia yang berhasil mengoperasikan pembangkit nuklir Olkiluoto 3 sejak 2013 tanpa banyak resistensi publik, bahkan setelah tragedi Fukushima,” tulis Zainal dalam sebuah opini.

 

Ia juga mengingatkan pentingnya memastikan pasokan bahan bakar dan teknologi nuklir tidak membuat Indonesia bergantung pada negara lain. Ketergantungan semacam ini berisiko merusak keberlanjutan pengembangan PLTN.

 

Berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA), energi nuklir diprediksi mencapai rekor baru pada 2025, dengan lebih dari 70 GW kapasitas tambahan yang sedang dibangun. Tenaga nuklir menjadi sumber energi rendah emisi terbesar kedua di dunia setelah tenaga air, menghasilkan kurang dari 10% pasokan listrik global. Dengan kebutuhan listrik yang terus meningkat, khususnya untuk mendukung pusat data dan perkembangan kecerdasan buatan, potensi nuklir dipandang semakin penting.

 

Laporan berjudul "The Path to a New Era for Nuclear Energy" yang dirilis IEA memberikan pandangan mendalam tentang tantangan dan peluang PLTN. Menurut Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, saat ini dunia menghadapi rintangan besar, termasuk menyelesaikan proyek nuklir tepat waktu dan mengelola rantai pasok secara efektif. Meski begitu, pengembangan nuklir terus melaju sebagai bagian dari upaya global memastikan pasokan energi yang andal dan berkelanjutan.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.