Banjir Mobil Listrik China, Merek Jepang dan Korsel Terdesak di Pasar RI

Teknologi Terkini - Diposting pada 14 August 2024 Waktu baca 5 menit

DIGIVESTASI - Pasar mobil listrik di Indonesia saat ini sedang dibanjiri oleh berbagai merek asal China yang menawarkan harga kompetitif dan spesifikasi unggul. Menurut pakar otomotif dan akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, kondisi ini dapat menekan penjualan merek mobil listrik asal Korea Selatan dan Jepang. "Produsen China dengan harga yang lebih terjangkau, fitur menarik, dan strategi pemasaran yang agresif mampu menarik perhatian konsumen kelas menengah yang sensitif terhadap harga," ungkap Yannes kepada *Bisnis*, Rabu (14/8/2024).

 

Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), merek mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) yang paling mendominasi adalah BYD. Merek ini mencatat penjualan sebesar 3.521 unit hanya dalam dua bulan. Rinciannya, penjualan BYD pada Juni mencapai 1.596 unit, dan meningkat menjadi 1.925 unit pada Juli 2024. Di Indonesia, BYD menawarkan empat model, yaitu BYD M6 di segmen MPV, BYD Atto 3 di segmen SUV, Hatchback BYD Dolphin, serta sedan BYD Seal. Harga yang ditawarkan BYD juga kompetitif, mulai dari Rp379 juta untuk BYD M6, Rp365 juta untuk BYD Dolphin, Rp465 juta untuk BYD Atto 3, dan Rp629 juta untuk BYD Seal.

 

Selain BYD, merek asal China lainnya yang mencatat penjualan tinggi pada Juli 2024 adalah Chery Omoda E5 dengan 394 unit dan Wuling Cloud EV dengan 550 unit. Sementara itu, merek asal Korea Selatan, PT Hyundai Motors Indonesia (HMID), berhasil menjual 379 unit mobil listrik, termasuk model Ioniq 5, Ioniq 6, dan Kona EV. Di sisi lain, penjualan mobil listrik Jepang terlihat lebih rendah. PT Toyota Astra Motors (TAM) hanya berhasil menjual 2 unit Toyota bZ4X, sementara Lexus UX 300e dan RZ 450e serta Mitsubishi L100 EV tidak mencatat penjualan pada Juli 2024. Harga mobil listrik Jepang yang lebih tinggi, seperti Toyota bZ4X dan Lexus, dipasarkan mulai dari Rp1,19 miliar, sementara Hyundai Ioniq 5 dijual mulai dari Rp713 juta dan Kona EV mulai dari Rp499 juta.

 

Yannes menekankan bahwa produsen mobil listrik asal Jepang dan Korea Selatan perlu mengembangkan model EV yang lebih terjangkau, meningkatkan efisiensi produksi, memperkuat jaringan purnajual, serta berinovasi dalam teknologi dan fitur untuk tetap bersaing. "Dukungan pemerintah China terhadap industri EV mereka juga memperkuat posisi mereka di pasar global, termasuk Indonesia. Jika produsen Korea Selatan dan Jepang tidak segera beradaptasi, mereka bisa kehilangan pangsa pasar yang signifikan," tutup Yannes.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

TAG :