Saham News
IHSG Masih Merah, Tapi Saham Ini Justru Menarik Diburu-Peluang di Tengah Tekanan
/index.php
Saham News - Diposting pada 14 January 2025 Waktu baca 5 menit
DIGIVESTASI - DBS Bank memproyeksikan bahwa kondisi pasar modal Indonesia kemungkinan belum akan menunjukkan perbaikan signifikan pada semester pertama 2025. Prediksi ini didasarkan pada respons investor asing terhadap kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam masa kepemimpinan keduanya.
Senior Investment Strategist DBS Bank Joanne Goh menjelaskan bahwa kebijakan perdagangan baru dari Trump diperkirakan akan meningkatkan tarif impor terhadap mitra dagang AS. "Bagi Indonesia, kami memperkirakan akan menghadapi tantangan terutama pada semester pertama karena dampak kebijakan 'Trump 2.0'," ujar Goh dalam acara DBS Chief Investment Officer (CIO) Insights, Senin (13/1/2025).
Goh mencatat bahwa dampak kebijakan tarif yang diinisiasi oleh Trump ini telah terlihat sejak akhir 2024 hingga awal 2025. Salah satu indikasinya adalah penguatan nilai tukar dolar AS terhadap berbagai mata uang utama, termasuk rupiah, serta kenaikan imbal hasil surat berharga pemerintah AS (US Treasury). "Kondisi ini membuat aset seperti surat berharga Indonesia menjadi kurang menarik bagi investor global," tambahnya.
Meski demikian, DBS memprediksi situasi akan mulai pulih secara bertahap pada semester kedua 2025. Pemulihan ini sebagian besar didukung oleh langkah diversifikasi ekonomi yang dilakukan untuk merespons dampak kebijakan perdagangan Trump. Khusus bagi Indonesia, Goh menyoroti potensi positif sebagai salah satu ekonomi terbesar di ASEAN. Dengan populasi yang besar, konsumsi domestik menjadi salah satu motor utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. "Kami optimistis sektor domestik, terutama saham di bidang konsumen dan perbankan, akan tumbuh dengan baik," kata dia.
Sementara itu, tim ekonomi Presiden AS terpilih Donald Trump dikabarkan sedang menyusun kebijakan kenaikan tarif secara bertahap. Langkah ini dirancang untuk memperkuat posisi tawar AS di pasar global tanpa memicu lonjakan inflasi. Trump sebelumnya mengusulkan tarif 10% atau lebih pada seluruh barang impor ke AS, dengan tujuan mengurangi defisit perdagangan secara signifikan.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.