Saham News
IHSG Masih Merah, Tapi Saham Ini Justru Menarik Diburu-Peluang di Tengah Tekanan
/index.php
Teknologi Terkini - Diposting pada 14 January 2025 Waktu baca 5 menit
DIGIVESTASI - Starlink, layanan internet satelit yang diluncurkan pada 2019 oleh SpaceX milik Elon Musk, kini telah tersedia di lebih dari 100 negara. Namun, keberadaan layanan ini ternyata memunculkan tantangan besar bagi perusahaan telekomunikasi lokal di berbagai wilayah.
Di Kenya, sejak diperkenalkan pada Juli 2023, Starlink telah mengganggu ekosistem penyedia layanan internet yang sudah mapan. Layanan ini menarik minat masyarakat dengan menawarkan kecepatan koneksi tinggi, cakupan luas hingga ke daerah terpencil, serta tarif yang lebih terjangkau.
Data terbaru dari Otoritas Komunikasi Kenya menunjukkan bahwa pada Juni 2024, lebih dari 8.000 orang di negara itu telah berlangganan Starlink, menjadikannya salah satu dari sepuluh penyedia layanan internet paling populer. Akibatnya, perusahaan telekomunikasi lokal seperti Safaricom dan Jamii harus menurunkan tarif sekaligus meningkatkan kualitas layanan internet mereka untuk tetap bersaing.
Di pedesaan Kenya, Safaricom sering dianggap terlalu mahal, sehingga banyak rumah tangga beralih ke Starlink sebagai penyedia pilihan. Seorang investor di Nairobi, Abel Boreto, mengungkapkan bahwa jaringan internet dari Safaricom tidak bisa diandalkan saat dia mengunjungi kampung halamannya, sehingga dia beralih ke Starlink pada Agustus 2024. Boreto mengatakan bahwa Starlink lebih ekonomis dengan biaya $10 per bulan untuk 50GB data, serta mudah digunakan.
"Starlink menawarkan layanan cepat yang memungkinkan saya berbagi internet dengan keluarga di rumah saat saya sedang tidak berada di sana," ujar Boreto, sebagaimana dikutip dari Rest of World pada Selasa (14/1/2025).
Antusiasme besar terhadap Starlink bahkan membuat layanan ini menghentikan sementara pendaftaran baru di kota-kota besar Kenya pada awal November 2024 karena lonjakan permintaan yang melampaui kapasitas jaringan. Untuk mengatasi masalah ini, Starlink merencanakan perluasan infrastruktur di Nairobi dan Johannesburg guna menampung lebih banyak pengguna.
Namun, kehadiran Starlink juga menimbulkan kekhawatiran global tentang potensi monopoli. Mohan, seorang profesor ilmu komputer di Delft University, memperingatkan bahwa dominasi satu perusahaan dalam penyediaan internet dapat membuat konsumen rentan terhadap kenaikan harga, penurunan kualitas layanan, dan pengendalian akses internet oleh satu entitas.
Di sisi lain, perusahaan telekomunikasi lokal di Kenya telah menyuarakan kekhawatiran bahwa Starlink akan menggerus pangsa pasar mereka, yang selama ini mendukung ribuan pekerjaan di sektor telekomunikasi Afrika.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.