Crypto News
Terungkap! Siapa Pemilik Bitcoin Terbesar 2026? Ini Daftar & Fakta Mengejutkannya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 24 June 2025 Waktu baca 5 menit
Memanasnya konflik antara Israel dan Iran di kawasan Timur Tengah, yang turut melibatkan Amerika Serikat (AS), diprediksi akan memberikan dampak buruk bagi Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah kenaikan harga minyak mentah global. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Indonesia akan terkena imbas negatif dari kondisi tersebut.
Putra Adhiguna, seorang analis energi dari Institute of Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), menyatakan bahwa ketegangan yang terjadi di Timur Tengah telah menyebabkan harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan, bahkan sejak serangan awal Israel terhadap Iran.
“Harga minyak sudah mulai meningkat sejak awal serangan Israel. Dengan adanya keterlibatan AS, potensi risiko semakin besar, terutama karena kedua pihak saling merusak infrastruktur produksi minyak dan gas, termasuk ladang gas South Pars di Iran,” ujar Putra kepada CNBC Indonesia pada Senin (23/6/2025).
Selain itu, keputusan Iran untuk menutup Selat Hormuz juga memperparah situasi karena dapat menghambat jalur transportasi minyak dan gas internasional. Selat ini memiliki peran krusial karena sekitar 20% perdagangan migas dunia melintas melalui jalur tersebut.
“Lebih dari sekadar produksi Iran, risiko tertundanya arus perdagangan di Selat Hormuz sangat besar, sebab sekitar 20% minyak dunia melewati selat ini. Jalur ini sangat vital karena hanya selat ini yang bisa dilalui kapal tanker berukuran besar,” jelasnya lebih lanjut.
Bagi Indonesia, keberadaan Selat Hormuz sangat penting karena menjadi jalur pengiriman minyak mentah, BBM, dan LPG dari Timur Tengah. Jika selat ini terganggu, maka ketersediaan energi dalam negeri dikhawatirkan ikut terancam.
Naiknya harga minyak dunia serta potensi hambatan distribusi berpeluang menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal ini karena subsidi energi yang harus ditanggung bisa membengkak secara signifikan.
“Ada risiko peningkatan subsidi yang besar, dan ini kembali mengingatkan pentingnya peralihan ke kendaraan listrik. Pengeluaran yang meningkat ini dapat membebani APBN maupun daya beli masyarakat,” ujar Putra.
Karena itu, ia menekankan bahwa pemerintah harus segera mencari solusi atas kemungkinan lonjakan harga BBM dan LPG. Salah satu alternatif yang diusulkan adalah elektrifikasi, baik dalam sektor transportasi maupun rumah tangga, untuk mengurangi tekanan terhadap APBN.
“Situasi seperti ini terus berulang, sehingga perlu pendekatan jangka panjang, yaitu mengurangi ketergantungan pada BBM dan LPG dengan elektrifikasi kendaraan dan dapur, serta memperkuat cadangan energi nasional,” tegasnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada tahun 2024, Indonesia mengimpor minyak dan gas bumi senilai US$ 36,27 miliar, meningkat dari US$ 35,83 miliar pada tahun sebelumnya.
Impor migas tersebut terdiri dari minyak mentah sebesar US$ 10,35 miliar, yang mengalami sedikit penurunan dari US$ 11,14 miliar di tahun 2023. Sementara itu, impor produk minyak seperti BBM mencapai US$ 25,92 miliar, naik dari US$ 24,68 miliar.
Dalam APBN 2025, harga minyak mentah Indonesia (ICP) diasumsikan sebesar US$ 82 per barel, dengan target lifting minyak sebesar 605.000 barel per hari (bph).
Harga Minyak Dunia Naik Drastis
Pada Senin pagi (23/6/2025), harga minyak global melonjak tajam setelah Iran resmi menutup Selat Hormuz, menyusul serangan udara AS terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran yaitu Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Mengacu pada data Refinitiv pukul 08:30 WIB, harga minyak Brent kontrak terdekat naik 2,69% menjadi US$ 79,08 per barel. Sementara harga WTI menguat 1,23% ke angka US$ 75,85 per barel.
Kenaikan ini memperpanjang tren reli harga minyak yang terjadi selama sepekan terakhir. Sejak 12 Juni 2025, harga Brent sudah naik hampir 14% dari posisi US$ 69,36.
Pemicu utama kenaikan harga minyak adalah penutupan Selat Hormuz oleh Iran—jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, serta merupakan satu-satunya akses keluar-masuk minyak dari kawasan Teluk.
Penutupan ini dilakukan setelah AS melancarkan serangan presisi menggunakan jet siluman B-2 terhadap tiga lokasi nuklir Iran pada Sabtu malam waktu setempat. Presiden Donald Trump menyatakan operasi tersebut berhasil besar dan memperingatkan adanya respons yang lebih besar jika Iran melakukan aksi balasan.
“Kami telah menjatuhkan bom secara penuh ke situs utama di Fordow. Seluruh pesawat berhasil keluar dari wilayah udara Iran dengan selamat,” kata Trump lewat akun Truth Social.
Sekadar informasi, sekitar 20% pasokan minyak dunia serta sebagian besar ekspor LNG dunia melewati Selat Hormuz. Ketegangan di wilayah ini memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dan kemungkinan lonjakan harga minyak lebih lanjut.
Penutupan Selat Hormuz meningkatkan ketidakpastian pasokan di tengah pasar yang sudah sangat sensitif terhadap konflik Timur Tengah. Analis memperkirakan bahwa jika penutupan berlangsung lebih dari beberapa hari, harga minyak bisa menembus US$ 85 bahkan US$ 90 dalam waktu dekat.
Menurut prediksi Goldman Sachs dan konsultan Rapidan Energy, harga minyak bisa menembus US$ 100 per barel jika selat tersebut tetap ditutup dalam jangka panjang. Namun, analis dari JPMorgan menilai kemungkinan Iran menutup selat untuk waktu lama tergolong kecil, karena AS bisa menganggap tindakan tersebut sebagai deklarasi perang.
Iran sendiri merupakan produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, dengan produksi sebesar 3,3 juta barel per hari. Pada bulan lalu, Iran mengekspor sekitar 1,84 juta barel per hari.
Data Kpler menyebutkan sebagian besar ekspor minyak Iran ditujukan ke Tiongkok. Sekitar separuh dari total impor minyak mentah Tiongkok berasal dari wilayah Teluk Persia.
“Langkah itu akan menjadi bumerang bagi Iran: menutup Selat Hormuz akan memutus aliran ekspor minyak ke China dan menghentikan sumber pendapatan utama negara itu,” ujar Matt Smith, analis utama energi dari Kpler.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.