Rencana Impor Beras dari India: Bagaimana Ini Mempengaruhi Cita-cita Swasembada Pangan Indonesia?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 21 November 2024 Waktu baca 5 menit

DIGIVESTASI - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa Indonesia berencana mengimpor beras dari India. Pernyataan tersebut disampaikan saat pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi, di Brasil pada Senin (18/11/2024). Dalam keterangan yang dirilis oleh Sekretariat Kabinet pada Rabu (20/11/2024), Prabowo menegaskan bahwa langkah impor ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kerja sama perdagangan antara Indonesia dan India.

 

"Kami berharap dapat segera menyelesaikan kesepakatan impor beras dari India," ujar Presiden Prabowo.

Namun, Presiden tidak merinci lebih lanjut mengenai teknis atau kuota impor yang dimaksud.

 

Pemerintah Indonesia sebelumnya juga telah mengimpor beras dari India. Pada 2023, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyepakati kontrak pengadaan beras sebanyak 1 juta ton dari India, sebagai upaya menjaga stok beras nasional di tengah ancaman dampak El Nino. Saat itu, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengungkapkan bahwa pemerintah berusaha mengamankan pasokan beras untuk memastikan ketersediaan dalam negeri. "Kami sudah menandatangani MoU dengan India untuk impor 1 juta ton," ujar Zulhas pada Juni 2023.

 

Beberapa bulan setelahnya, pada Desember 2023, Indonesia juga mengonfirmasi kesepakatan impor beras dari Thailand sebanyak 2 juta ton, sebagai bagian dari langkah menjaga cadangan pangan nasional. Jokowi menyatakan bahwa impor tersebut penting untuk mengatasi dampak El Nino yang mengurangi produksi beras pada 2023.

 

"Impor beras ini untuk mengamankan ketahanan pangan, dan kami sudah memperoleh kesepakatan dari India dan Thailand," ungkap Jokowi pada 22 Desember 2023.

 

Indonesia terus bergantung pada impor beras dalam beberapa tahun terakhir akibat terbatasnya produksi dalam negeri, dengan negara pemasok utama seperti India, Pakistan, Thailand, dan Kamboja. Pada 2024, Indonesia mengimpor sekitar 3,6 juta ton beras.

 

Di sisi lain, Presiden Prabowo juga menyampaikan komitmennya untuk mengatasi masalah kekurangan pangan di Indonesia pada sesi pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Rio de Janeiro pada 18 November 2024. Dalam pidatonya, Prabowo menyatakan target untuk mengatasi kekurangan pangan dalam tiga tahun dan mencapai swasembada pangan dalam empat tahun ke depan. Dalam lima tahun mendatang, Indonesia diharapkan dapat berkontribusi dalam mengatasi kemiskinan dan kelaparan global.

 

"Target kita adalah mengatasi kekurangan pangan dalam tiga tahun dan mencapai swasembada dalam empat tahun," ujar Prabowo, sebagaimana dilansir dari siaran YouTube Sekretariat Presiden.

 

Visi Prabowo ini didukung oleh para menteri dalam Kabinet Indonesia Maju. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menargetkan Indonesia dapat mencapai swasembada pangan, terutama beras dan jagung, pada 2028. "Presiden telah berulang kali menekankan pentingnya swasembada pangan. Kami akan berusaha keras mencapai target ini pada 2028," kata Zulhas usai mengunjungi fasilitas penyimpanan beras Perum Bulog di Jakarta, Senin (4/11/2024).

 

Untuk mencapai swasembada pangan, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyusun berbagai strategi, termasuk melakukan ekstensifikasi dan intensifikasi lahan. Kementan juga telah membentuk Brigade Swasembada Pangan untuk program cetak sawah dan optimasi lahan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa Brigade ini melibatkan Kementan, Kementerian Pekerjaan Umum, dan TNI, dengan target mencetak 2,4 juta hektar lahan baru dalam lima tahun ke depan.

 

Pada tahun 2025, meskipun Indonesia masih mengimpor beras pada 2024, pemerintah berencana mengurangi ketergantungan pada impor. Zulkifli Hasan mengungkapkan bahwa stok beras di Bulog hingga akhir 2024 diperkirakan mencapai 2 juta ton, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun. "Dengan stok yang ada, kami berharap tahun depan bisa mengurangi impor beras, bahkan mungkin tidak perlu impor sama sekali," kata Zulhas pada 11 November 2024.

 

Dia memastikan bahwa ketersediaan beras akan terjaga selama periode kekurangan panen pada Januari-Februari 2025, karena pada bulan-bulan berikutnya produksi beras diperkirakan akan surplus. "Kami tidak khawatir karena stok beras di Bulog saat ini sudah mencapai 2 juta ton," jelas Zulhas.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: kompas.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.