Saham News
IHSG Masih Merah, Tapi Saham Ini Justru Menarik Diburu-Peluang di Tengah Tekanan
/index.php
Crypto News - Diposting pada 21 November 2024 Waktu baca 5 menit
DIGIVESTASI - Harga Bitcoin Meningkat Pesat, Michael Saylor Tetap Optimis, Harga Bitcoin telah lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa. Meskipun beberapa investor bersikap hati-hati, salah satu pendukung utama Bitcoin, Michael Saylor, yang juga menjabat sebagai Executive Chairman MicroStrategy (MSTR), tetap percaya pada potensi mata uang kripto ini.
Di bawah kepemimpinan Saylor, MicroStrategy mulai berinvestasi dalam Bitcoin pada 2020 dengan pembelian senilai USD 250 juta. Hingga 10 November 2024, perusahaan ini telah memiliki 279.420 Bitcoin dengan total biaya pembelian sekitar USD 11,9 miliar, yang kini bernilai sekitar USD 24,5 miliar.
Menurut data dari Motley Fool Stock Advisor, portofolio Bitcoin MicroStrategy kini setara dengan sekitar sepertiga dari nilai perusahaan yang mencapai USD 73,3 miliar, dan sekitar 1,4% dari total kapitalisasi pasar Bitcoin yang saat ini mencapai USD 1,8 triliun. Meskipun harga Bitcoin terus melonjak, MicroStrategy tetap melanjutkan pembelian.
Pada periode 31 Oktober hingga 10 November 2024, MicroStrategy membeli 27.200 Bitcoin tambahan dengan total biaya mencapai USD 2,03 miliar (sekitar Rp 32,29 triliun), dengan harga rata-rata per Bitcoin sebesar USD 74.463.
Michael Saylor Prediksi Harga Bitcoin Akan Terus Meningkat
Saylor memprediksi harga Bitcoin akan mencapai USD 100.000 pada akhir 2024 dan terus naik hingga USD 13 juta dalam 21 tahun mendatang. Prediksi ini menunjukkan potensi kenaikan hampir 15.000% dari harga saat ini. Saylor juga memperkirakan Bitcoin akan tumbuh dari 0,1% dari kapitalisasi global menjadi 7%, seiring semakin banyaknya institusi keuangan yang menyediakan layanan terkait Bitcoin. Ia percaya Bitcoin akan diperdagangkan dengan volume lebih besar daripada S&P 500, berkat sifatnya yang terbuka, global, dan bebas.
Sebagian besar kekayaan Saylor kini terkait langsung dengan harga Bitcoin. Ia memiliki 17.732 Bitcoin secara pribadi, yang bernilai sekitar USD 1,6 miliar, hampir seperlima dari total kekayaannya yang diperkirakan mencapai USD 8,3 miliar. Sisanya berasal dari kepemilikan sahamnya di MicroStrategy yang berjumlah 9,9%, sebagian besar dinilai berdasarkan kepemilikan Bitcoin perusahaan, bukan bisnis perangkat lunaknya.
Apakah Strategi MicroStrategy pada Bitcoin Berkelanjutan?
Transformasi MicroStrategy menjadi investor besar Bitcoin terjadi secara tiba-tiba. Sebelum 2020, perusahaan ini dikenal sebagai penyedia perangkat lunak analitik data dengan pertumbuhan yang lambat. Dari 2013 hingga 2023, pendapatan perusahaan menurun dari USD 576 juta menjadi USD 496 juta, kalah bersaing dengan perusahaan cloud besar seperti Microsoft dan Salesforce. Untuk mengatasi tekanan ini, Saylor mengarahkan MicroStrategy untuk berinvestasi pada Bitcoin.
Untuk menstabilkan bisnis perangkat lunaknya, MicroStrategy telah beralih ke layanan berbasis cloud. Baru-baru ini, perusahaan meluncurkan platform kecerdasan buatan (AI) bernama MicroStrategy AI yang dirancang untuk membantu perusahaan mengintegrasikan AI dalam aplikasi data mereka. Inisiatif cloud dan AI ini diharapkan dapat menstabilkan bisnis perangkat lunaknya dan menghasilkan lebih banyak dana untuk membeli Bitcoin di masa depan.
Namun, meskipun strategi jangka panjang ini menjanjikan, prospek jangka pendek MicroStrategy tidak terlalu cerah. Analis memperkirakan bahwa antara 2023 hingga 2026, pendapatan perusahaan hanya akan tumbuh sekitar 1% per tahun, sementara perusahaan diperkirakan masih akan merugi berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP).
Risiko dan Tekanan Finansial MicroStrategy
MicroStrategy menghadapi tekanan finansial karena biaya penurunan nilai Bitcoin melebihi total pendapatan dari bisnis perangkat lunaknya. Perusahaan juga mengambil lebih banyak utang dan menerbitkan saham baru untuk membiayai pembelian Bitcoin. Akibatnya, kewajiban perusahaan meningkat empat kali lipat sejak akhir 2020, sementara jumlah saham yang beredar lebih dari dua kali lipat dalam empat tahun terakhir. Bahkan, perusahaan berencana mengumpulkan USD 42 miliar dalam tiga tahun ke depan untuk terus membeli lebih banyak Bitcoin.
Bagi investor yang optimis terhadap Bitcoin dan pesimis terhadap dolar AS, MicroStrategy bisa menjadi peluang investasi menarik di dunia cryptocurrency. Jika harga Bitcoin terus melonjak terhadap dolar, nilai kepemilikan Bitcoin perusahaan ini bisa dengan mudah menutupi utang berbasis dolar mereka. Namun, jika harga Bitcoin anjlok, keuangan perusahaan bisa mengalami kerugian signifikan. Ini merupakan investasi yang berisiko, namun strategi besar MicroStrategy pada Bitcoin berpotensi mendorong harga saham perusahaan lebih tinggi dalam beberapa tahun mendatang.
Kerugian Kripto Meningkat, Menyentuh Rp 2,05 Triliun pada Oktober 2024
Sementara itu, kerugian akibat peretasan dan penipuan kripto mencapai USD 129,6 juta atau sekitar Rp 2,05 triliun pada Oktober 2024. Data dari perusahaan keamanan blockchain CertiK menunjukkan bahwa modus exit scam menyebabkan kerugian USD 1,2 juta, serangan pinjaman kilat menyebabkan kerugian sebesar USD 1,5 juta, dan eksploitasi menyumbang kerugian terbesar, yakni USD 127 juta.
Insiden terbesar pada Oktober terjadi pada Radiant Capital, sebuah protokol pinjaman yang merugi lebih dari USD 50 juta setelah diretas. Serangan phishing terhadap sejumlah investor besar (whale) juga menyebabkan kerugian sekitar USD 36 juta, sementara peretasan pada bursa kripto M2 merugikan hingga USD 13 juta.
Kerugian akibat eksploitasi pada Oktober ini menunjukkan peningkatan 2,91% dibandingkan dengan kerugian pada September, yang tercatat sebesar USD 123,4 juta. Meski begitu, kerugian tersebut turun 60% dibandingkan dengan kerugian sebesar USD 324,7 juta pada Mei 2024.
Radiant Capital Perbaiki Keamanan Pasca Peretasan
Insiden terbesar pada Oktober melibatkan Radiant Capital, yang menghentikan operasional pasar pinjamannya setelah pasar BNB Chain dan Arbitrum diretas. Peretas berhasil mengakses kunci pribadi dan kontrak pintar protokol tersebut, menguras lebih dari USD 50 juta dalam bentuk aset digital. Radiant Capital menyatakan bahwa mereka telah memperbarui mekanisme keamanan mereka, termasuk pemindahan kepemilikan protokol ke kontrak timelock, yang memberlakukan masa tunggu 72 jam untuk setiap penyesuaian.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: liputan6.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.