Saham News
Saham Bank Tertekan Aksi Jual Asing-Saatnya Waspada atau Justru Peluang?
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 26 February 2026 Waktu baca 5 menit
Bank-bank besar di Indonesia dengan modal inti lebih dari Rp70 triliun telah mengumumkan kinerja keuangan mereka sepanjang tahun lalu. Hasilnya menunjukkan variasi, di mana sebagian bank berhasil mencatat kenaikan laba bersih, sementara yang lain menghadapi tekanan kinerja. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, BCA membukukan laba tertinggi selama tahun tersebut dengan total Rp57,5 triliun. Posisi berikutnya ditempati oleh bank milik negara, BRI, dengan laba bersih Rp57,13 triliun dan Bank Mandiri sebesar Rp56,3 triliun. Sementara itu, BNI mencatat laba bersih Rp20,11 triliun. Dari sisi pertumbuhan, selain menjadi peraih laba terbesar, BBCA juga mencatat pertumbuhan laba tertinggi di antara bank-bank besar lainnya, yaitu sebesar 4,9% secara tahunan (YoY).
Di sisi lain, terdapat bank yang mengalami tekanan kinerja sepanjang tahun lalu, seperti BNI dan BRI yang mencatat penurunan laba bersih.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa kondisi global masih menjadi tantangan dan memengaruhi performa perbankan pada 2025. Walaupun diwarnai ketidakpastian, OJK memperkirakan penyaluran kredit perbankan tetap menunjukkan tren positif sepanjang tahun tersebut. Hingga Desember 2025, realisasi pertumbuhan kredit perbankan mencapai 9,69% YoY dan masih berada dalam kisaran proyeksi Bank Indonesia (BI) sebesar 8%-11% YoY. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat tumbuh 13,83% YoY. Berikut ringkasan kinerja bank-bank besar (BCA, BRI, Mandiri, dan BNI) sepanjang 2025:
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatat kenaikan laba bersih sebesar 4,9% menjadi Rp57,5 triliun sepanjang 2025. Secara konsolidasi, kredit BCA tumbuh 7,7% YoY menjadi Rp993 triliun per Desember 2025, dengan rata-rata pertumbuhan kredit mencapai 10,8% selama tahun berjalan. Penyaluran kredit tersebut tersebar di berbagai sektor seperti manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, dan rumah tangga. BCA juga melaporkan kenaikan giro dan CASA sebesar 13,1% YoY menjadi Rp1.045 triliun. Hingga Desember 2025, total DPK tumbuh 10,2% YoY menjadi Rp1.249 triliun. Frekuensi transaksi BCA sepanjang 2025 meningkat 17% YoY menjadi 42 miliar transaksi, dengan rekor pemrosesan hampir 300 juta transaksi dalam satu hari. Transaksi mobile banking dan internet banking naik 19% YoY. Pendapatan bunga bersih tumbuh 4,1% YoY dan pendapatan non-bunga meningkat 16% YoY, sehingga total pendapatan operasional naik 5,4% YoY. Rasio cost to income (CIR) yang membaik turut mendukung pertumbuhan laba bersih sebesar 4,9% YoY menjadi Rp57,5 triliun.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp57,13 triliun sepanjang 2025. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di Harian Bisnis Indonesia edisi Kamis (26/2/2026), laba tersebut berasal dari pendapatan bunga Rp207,78 triliun, naik 4,27% dibandingkan Rp199,27 triliun pada 2024. Pada tahun sebelumnya, laba bersih BRI tercatat Rp60,3 triliun. Beban bunga meningkat 1,20% menjadi Rp57,28 triliun dari Rp56,61 triliun. Meski demikian, pendapatan bunga bersih (NII) naik 5,52% menjadi Rp150,50 triliun dari Rp142,65 triliun. Jika digabung dengan pendapatan jasa asuransi, total pendapatan bunga bersih dan jasa asuransi bersih mencapai Rp151,79 triliun atau tumbuh 5,54% dari Rp143,82 triliun. Sepanjang 2025, BRI tetap memperluas fungsi intermediasi dengan kredit dan pembiayaan syariah sebesar Rp1.517,07 triliun, tumbuh 12,67% dibandingkan 2024 sebesar Rp1.348,2 triliun. Kredit yang diberikan mencapai Rp1.460,72 triliun, naik 12,5%, sementara pembiayaan syariah sebesar Rp56,35 triliun, meningkat 12,9%. Penghimpunan DPK mencapai Rp1.466,84 triliun, tumbuh 7,42% dari Rp1.365,45 triliun.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp56,3 triliun pada 2025, naik 0,93% dari Rp55,78 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kredit yang disalurkan mencapai Rp1.895 triliun atau tumbuh 13,4% YoY. DPK tercatat Rp2.106 triliun atau meningkat 23,9% YoY, dengan pertumbuhan dana murah 12,6% YoY menjadi Rp1.431 triliun. Pertumbuhan kredit terjadi merata di seluruh segmen bisnis, termasuk kredit UMKM yang naik 4,88% YoY meskipun industri melambat. Pendapatan bunga bersih tercatat Rp106 triliun atau naik 4,38% YoY, sementara pendapatan non-bunga sebesar Rp48,5 triliun atau naik 14,5% YoY. Rasio NPL bank only sebesar 0,96% dengan CAR 20,4%. Total aset tumbuh 16,6% YoY menjadi Rp2.829,95 triliun dari Rp2.427,22 triliun. NIM tercatat 4,89%, lebih rendah dibandingkan 5,15% pada akhir 2024.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mencatat laba bersih Rp20,11 triliun hingga Desember 2025, turun 7,15% YoY dari Rp21,66 triliun. Pendapatan bunga tercatat Rp69,39 triliun atau naik 4,22% YoY, sementara beban bunga meningkat 11,33% menjadi Rp29,06 triliun. Pendapatan bunga bersih mencapai Rp40,33 triliun, turun tipis 0,36% dari Rp40,48 triliun. Kredit tumbuh 15,94% YoY menjadi Rp899,53 triliun dari Rp775,87 triliun. DPK meningkat 29,21% menjadi Rp1.040,83 triliun dari Rp805,51 triliun. Rasio KPMM turun dari 21,40% menjadi 20,66%. NPL gross membaik dari 1,97% menjadi 1,93% dan NPL net dari 0,74% menjadi 0,70%. NIM menurun menjadi 3,80% dari 4,24%, sementara rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional naik dari 70,05% menjadi 72,94%.
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.