Ramah Ekonomi: PBB Prediksi Global Hanya Tumbuh 2,8% di 2025, Apa Penyebabnya?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 11 January 2025 Waktu baca 5 menit

Illustrasi Kota Jakarta

DIGIVESTASI - PBB Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Global Stagnan di 2,8 Persen pada 2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi global akan tetap bertahan di angka 2,8 persen pada 2025, sama seperti tahun sebelumnya. Stagnasi ini dipengaruhi oleh perlambatan di dua negara dengan perekonomian terbesar, yakni Amerika Serikat (AS) dan China.

 

Menurut laporan World Economic Situation and Prospects dari Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB, pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan akan melambat dari 2,8 persen pada 2024 menjadi 1,9 persen pada 2025 akibat melemahnya pasar tenaga kerja dan berkurangnya belanja konsumen. Di sisi lain, pertumbuhan China diproyeksikan menurun dari 4,9 persen pada 2024 menjadi 4,8 persen pada 2025, meskipun ada investasi sektor publik dan ekspor yang kuat, namun dibayangi oleh lemahnya konsumsi dan sektor properti yang terus tertekan.

 

Eropa diprediksi akan mengalami pemulihan moderat dengan pertumbuhan meningkat dari 0,9 persen pada 2024 menjadi 1,3 persen pada 2025, didukung oleh penurunan inflasi dan penguatan pasar tenaga kerja.

 

Sementara itu, Asia Selatan tetap menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan proyeksi kenaikan PDB regional sebesar 5,7 persen pada 2025 dan 6 persen pada 2026. India, sebagai ekonomi terbesar di Asia Selatan, diperkirakan tumbuh sebesar 6,6 persen pada 2025 dan 6,8 persen pada 2026 berkat konsumsi dan investasi swasta yang solid.

 

PBB juga mencatat bahwa meskipun ekspansi global terus berjalan, tingkat pertumbuhan diproyeksikan lebih lambat dibandingkan rata-rata sebelum pandemi pada 2010-2019 yang mencapai 3,2 persen. Perlambatan ini disebabkan oleh tantangan struktural seperti rendahnya investasi, lambatnya pertumbuhan produktivitas, tingginya tingkat utang, serta tekanan demografis.

 

Laporan tersebut menyebutkan bahwa bank sentral utama kemungkinan akan melanjutkan penurunan suku bunga pada 2025 seiring dengan meredanya tekanan inflasi global, yang diproyeksikan turun dari 4 persen pada 2024 menjadi 3,4 persen pada 2025. Penurunan inflasi ini diharapkan memberikan ruang bagi rumah tangga dan dunia usaha.

 

PBB juga menyerukan tindakan multilateral untuk mengatasi berbagai krisis global yang saling terkait, termasuk utang, ketimpangan, dan perubahan iklim. Menurut laporan itu, "Pelonggaran moneter saja tidak cukup untuk memulihkan pertumbuhan global atau mengatasi kesenjangan yang semakin melebar."


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.