Berita Terkini
4 Cara Sederhana Mengelola Emosi Saat Berbisnis-Kunci Sukses Pelaku Usaha
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 03 August 2023 Waktu baca 5 menit
Produsen mobil China, BYD, tengah menghadapi penyelidikan di India karena diduga melakukan penghindaran pajak atas bagian impor untuk mobil yang mereka rakit dan jual di negara tersebut. Penyelidikan ini dilakukan oleh Direktorat Intelijen Pendapatan (DRI) India dan menyebut bahwa perusahaan kendaraan listrik (EV) terbesar China tersebut telah membayar pajak yang lebih rendah sebesar 730 juta rupee (sekitar US$9 juta). Meskipun BYD telah menyetor jumlah tersebut setelah temuan awal DRI, penyelidikan masih berlangsung dan bisa mengakibatkan biaya dan denda pajak tambahan.
DRI belum mengeluarkan pemberitahuan akhir kepada BYD, sehingga perusahaan tersebut dapat menantang temuan tersebut. Sayangnya, baik BYD di India maupun di China tidak memberikan komentar mengenai masalah ini. Selain itu, Kementerian Keuangan India juga tidak memberikan tanggapan terkait permintaan komentar.
Kabar mengenai penyelidikan pajak ini muncul setelah tawaran BYD untuk membangun pabrik EV senilai US$1 miliar di India ditolak oleh pemerintah setempat. Penolakan ini terjadi karena adanya aturan yang lebih ketat terkait investasi asing dari negara-negara yang berbatasan dengan India, termasuk China. Konflik perbatasan antara India dan China sejak 2020 telah menimbulkan ketegangan antara kedua negara tersebut, dan perusahaan-perusahaan asal China menjadi sorotan di India.
Pembuat ponsel pintar Xiaomi juga mengalami masalah serupa, dituduh melakukan remitansi ilegal ke entitas asing dengan nama royalti. Namun, tuduhan ini ditolak dan ditantang oleh Xiaomi di pengadilan.
India memberlakukan pajak impor untuk mobil listrik yang dibangun sepenuhnya sebesar 70 persen atau 100 persen berdasarkan nilai kendaraan. Namun, tarif lebih rendah, yaitu sebesar 15 persen atau 35 persen, dikenakan pada impor bagian mobil yang kemudian dirakit secara lokal menjadi EV. Tarif lebih rendah ini berlaku ketika bagian seperti baterai atau motor diimpor tanpa dipasang pada sasis kendaraan. Salah satu sumber menyatakan bahwa BYD tidak memenuhi syarat-syarat ini, sehingga mereka harus membayar tarif yang lebih tinggi, tergantung pada nilai mobil yang mereka rakit.
Belum diketahui secara pasti periode waktu di mana pelanggaran pajak yang diduga terjadi, maupun jumlah mobil yang terpengaruh. BYD, yang telah berinvestasi lebih dari US$200 juta di India, memasarkan SUV listrik Atto 3 dan e6 EV ke armada perusahaan, dan berencana meluncurkan sedan listrik bernama Seal akhir tahun ini.
Sumber: scmp.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar teknologi aset digital dan investasi aset digital
|
DISCLAIMER Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi. |
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.