Prabowo Terpilih Sebagai Presiden RI, Ini Ramalan Asing tentang Ekonomi Indonesia

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 27 April 2024 Waktu baca 5 menit

DIGIVESTASI - Komisi Pemilihan Umum (KPU)  resmi menetapkan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabumin Raka sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2024-2029. Pasalnya, Mahkamah Konstitusi (MK) menolak seluruh gugatan  yang diajukan anggota kubu MD Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud terkait perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) yang saya terima.


Sebelum keputusan ini, banyak lembaga ekonomi asing yang  aktif menyampaikan pendapatnya mengenai situasi perekonomian Indonesia jika Prabowo Subianto menjadi presiden. Salah satunya adalah lembaga pemeringkat Amerika Fitch Ratings. 

 

“Sangat kecil kemungkinannya kebijakan perekonomian Indonesia  akan berubah di bawah kepemimpinan Pak Prabowo Subianto,” kata Fitch dalam siaran pers yang dimuat di situsnya beberapa waktu lalu. “Ini menunjukkan kesinambungan.” “Namun, ketidakpastian seputar kebijakan fiskal jangka menengah semakin meningkat,” tambahnya. 

 

Namun, Fitch mengatakan saat ini masih terlalu dini untuk memperkirakan masa depan perekonomian. Ia mengatakan, saat Prabowo mulai menjabat pada Oktober 2024, arah perekonomian Indonesia akan semakin jelas terkait kebijakan fiskal pemerintah selanjutnya. 

 

“Kami berharap Pak Prabowo  tetap fokus pada pembangunan infrastruktur, termasuk pembangunan ibu kota baru, dan melanjutkan upaya pemerintah saat ini untuk mendukung hilirisasi bahan baku dan memperluas produksi baterai dan kendaraan listrik,” kata organisasi dunia itu lagi. 

 

Fitch sendiri  memperkirakan pertumbuhan PDB riil Indonesia akan tetap pada atau sedikit di atas 5% pada tahun ini dan tahun depan, konsisten dengan kondisi sebelum pandemi. Sementara itu, Fitch memperkirakan kebijakan moneter dan fiskal akan terus mendukung stabilitas makroekonomi Indonesia setidaknya hingga tahun ini. 

 

“Namun demikian,  mengingat beberapa janji kampanye Pak Prabowo, seperti program makanan sekolah gratis dan produk susu, yang dapat mencapai sekitar 2% dari produk domestik bruto (PDB) tahunan, kebijakan fiskal jangka menengah "Kami pikir risikonya semakin meningkat," dia menjelaskan. 

 

“Pernyataan Pak Prabowo bahwa Indonesia dapat mempertahankan rasio utang publik terhadap PDB yang jauh lebih tinggi juga menunjukkan adanya risiko terhadap prospek fiskal fundamental kami. ``Kami menyerukan peningkatan signifikan dalam tingkat pendapatan pemerintah yang dihasilkan oleh pemerintah,'' dia ditambahkan. 

 

Kemenangan Prabowo juga disorot dalam Laporan Mingguan Pratinjau Ekonomi Asia-Pasifik yang diterbitkan Moody's Analytics pada 19-23 Februari 2024. Saya berharap Partai Gerinda pimpinan Pak Prabowo bisa bergabung dalam pemerintahan koalisi, ujarnya. 

 

Sementara itu, Moody's Analytics memberikan perkiraan yang sama dengan Fitch Ratings mengenai perekonomian negara. Politik populis Jokowi akan terus berlanjut. 

 

“Mengenai kebijakan ekonomi, mantan jenderal, yang mencalonkan diri sebagai presiden untuk ketiga kalinya, telah mengindikasikan niatnya untuk tetap berpegang pada kebijakan Presiden Joko Widodo, yang mendekati akhir masa jabatannya,” kata laporan itu.

 

Sebut Sri Mulyani 
Sebelumnya, saluran media Singapura News Asia (CNA) mengatakan, ``Komentar: Pak Prabowo sedang berusaha menjadi presiden Indonesia berikutnya, namun tantangannya adalah memastikan kesinambungan dalam kabinet.'' Situs tersebut mengutip  pakar  PhD dari Australia, Andriy Suryanta. Penghargaan dari Sekolah Kebijakan Publik Crawford Universitas Nasional Australia. The Interpreter pertama kali diterbitkan oleh Lowy Institute. 

 

Analisis ini juga menyentuh perekonomian Indonesia. Janji yang diucapkan oleh Pak Prabowo jelas merupakan kelanjutan dari gaya koalisi besar  yang diusung Presiden Jokowi dan rencana infrastruktur yang luas, termasuk peningkatan belanja pertahanan dan kesejahteraan sosial. 

 

Mengacu pada bagaimana utang dapat meningkat. Ada juga pembicaraan tentang apa yang akan terjadi jika Menteri Keuangan saat ini Sri Mulyani meninggalkan jabatannya, meskipun dia adalah salah satu pilar pemerintahan Jokowi. 
“Koalisi besar biasanya berarti menawarkan jabatan menteri sebagai imbalan atas kesetiaan partai. Namun strategi pendapatan masih belum jelas, sehingga pendanaan program-program ini mungkin memerlukan lebih banyak utang pemerintah,” kata analisis tersebut. 

 

Dia menambahkan: “Potensi pelonggaran disiplin utang negara merupakan kekhawatiran yang semakin besar di kalangan investor, mengingat Indonesia telah dipuji atas pengelolaan fiskal yang cerdik di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan saat ini Sri Mulyani Indrawati. Hal ini menimbulkan kekhawatiran,” tambahnya. . 

 

“Untuk menghilangkan kekhawatiran investor internasional dan menyampaikan pesan kesinambungan, Pak Prabowo harus memilih kabinet penggantinya dengan sangat hati-hati,” katanya.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.