Crypto News
Terungkap! Siapa Pemilik Bitcoin Terbesar 2026? Ini Daftar & Fakta Mengejutkannya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 29 June 2025 Waktu baca 5 menit
Perang dagang yang dimulai oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump diperkirakan akan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pembentukan kembali rantai pasokan global yang lebih ringkas dan bersifat regional. Trinh Nguyen, Ekonom Senior untuk Asia Emerging di Natixis, menjelaskan bahwa tekanan yang timbul akibat perang dagang memaksa perusahaan-perusahaan global untuk meninjau ulang strategi produksi mereka. Sebelumnya, perusahaan dapat dengan mudah mengimpor komponen dari berbagai negara karena biaya logistik yang rendah serta minimnya hambatan perdagangan. Namun kini, kondisi tersebut telah berubah.
“Jika Anda dihadapkan pada tarif impor sebesar 25%, akan lebih efisien jika proses produksi diselesaikan di satu lokasi saja dan hanya membayar bea masuk untuk produk akhirnya,” kata Trinh dalam lokakarya di Singapura yang turut dihadiri oleh Bisnis belum lama ini. Menurutnya, langkah seperti ini telah memicu transformasi yang cukup signifikan. Meskipun rantai pasokan global tidak benar-benar terputus, kini terjadi penataan ulang (rejig) yang semakin memperdalam integrasi ekonomi di kawasan tertentu seperti Asia, Eropa, dan Amerika Utara.
Trinh mencontohkan bahwa sebelum perang dagang terjadi, industri otomotif melakukan pengiriman komponen bolak-balik antar negara sebagai bagian dari proses produksinya. Sekarang, perusahaan cenderung membangun rantai pasokan yang terkonsentrasi di dalam satu blok perdagangan, seperti wilayah perjanjian USMCA (United States-Mexico-Canada Agreement).
Ia juga mengamati bahwa negara-negara ASEAN semakin aktif menjalin perjanjian perdagangan multilateral dengan negara-negara tetangga. Bahkan, ia mencatat total nilai perdagangan mencapai US$2.171 miliar pada tahun 2023 dengan mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Australia, dan India. “Perdagangan memang tidak berhenti, tetapi menjadi lebih terfokus. Kita menyaksikan terbentuknya rantai pasok regional yang semakin kuat, dan tren ini tampak di berbagai wilayah,” ujarnya.
Fenomena ini disebut sebagai nearshoring atau onshoring, yaitu strategi di mana perusahaan memindahkan produksi lebih dekat ke pasar konsumen atau ke wilayah dengan hambatan perdagangan yang lebih rendah. Trinh menilai bahwa pergeseran ini bukanlah suatu gangguan besar, melainkan bentuk penataan ulang terhadap alur produksi global. Arus perdagangan internasional tetap akan berjalan, hanya saja rute dan lokasi produksinya menjadi lebih bervariasi dan tersebar.
“China akan tetap menjadi bagian dari rantai pasokan global, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya pusat produksi. Akan ada lebih banyak pusat baru yang muncul, bergantung pada masing-masing wilayah,” tuturnya. Trinh menyimpulkan bahwa rantai pasok global tidak akan kembali seperti dulu. Sebagai gantinya, perusahaan-perusahaan akan semakin fokus memperkuat jaringan regional untuk meningkatkan efisiensi serta mengurangi risiko dari ketegangan geopolitik.
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.