Saham News
IHSG Masih Merah, Tapi Saham Ini Justru Menarik Diburu-Peluang di Tengah Tekanan
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 23 July 2025 Waktu baca 5 menit
Asosiasi nikel memaparkan bahwa tidak semua smelter mampu bertahan saat menghadapi situasi kelebihan pasokan dan merosotnya harga nikel.
Hanya perusahaan yang memiliki karakteristik khusus—seperti teknologi canggih atau produk yang terdiversifikasi—yang dinilai mampu mengatasi tantangan tersebut.
Pernyataan ini dilontarkan sebagai respons atas kondisi industri nikel nasional yang mengalami kemerosotan dan berujung pada pemutusan hubungan kerja massa di sektor ini.
Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, menyebutkan empat karakteristik utama dari smelter nikel di Indonesia yang memiliki peluang bertahan dalam situasi saat ini:
Kapasitas produksi besar, yang memungkinkan mereka tetap eksis dan berkembang di industri nikel.
Teknologi mutakhir, seperti rotary kiln electric furnace (RKEF) dan high pressure acid leach (HPAL), guna meningkatkan efisiensi serta kualitas produksi.
Diversifikasi produk, yakni mampu memproduksi feronikel, nikel matte, dan nikel sulfat agar lebih fleksibel di pasar.
Kemitraan strategis dengan perusahaan besar dan berpengalaman, yang dapat membantu memperkuat kapasitas produksi dan daya saing.
Menurut Arif, industri nikel dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk harga internasional, kebijakan pemerintah, dan perkembangan teknologi. Oleh sebab itu, smelter harus terus beradaptasi dan meningkatkan efisiensi produksi agar tetap kompetitif.
Arif menyebut kondisi oversupply nikel global disebabkan tingginya produksi nikel Indonesia yang mengguyur pasar, dipicu oleh melambatnya ekonomi China—pengguna nikel terbesar di dunia—serta ketegangan geopolitik, terutama perang dagang antara AS dan China.
Akibatnya, harga nikel mengalami tekanan selama lebih dari dua tahun terakhir: indeks harga di London Metal Exchange (LME) anjlok 46%, dan di Shanghai Metal Market (SMM) turun 35% sejak 2023.
“Bagi sebagian pelaku pengolahan dan pemurnian nikel, situasi ini tidak mudah, bahkan ada yang terpaksa mengurangi produksi dan memperlambat operasi karena tekanan ekonomi,” jelas Arif.
Secara terpisah, Bhima Yudhistira dari Celios menambahkan bahwa smelter yang bisa bertahan biasanya memiliki kontrak jangka panjang dan bijih berkualitas tinggi, serta pasar ekspor yang luas—bukan hanya ke China tapi juga ke Eropa dan AS.
Bhima memprediksi krisis smelter nikel akan berlanjut tahun depan, karena proses seleksi alam baru berjalan. Dia menilai proses hilirisasi nikel yang diterapkan pemerintah sejak 2016–2021 tidak optimal—pembangunan smelter terlalu cepat tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan dan pasokan bijih memadai.
Menurut data APNI, terdapat 120 proyek smelter pirometalurgi berbasis RKEF dengan kebutuhan 584,9 juta ton bijih nikel, dan 27 proyek hidrometalurgi HPAL yang memerlukan 150,3 juta ton bijih.
Beberapa smelter besar sudah menghentikan sebagian operasi sejak awal tahun ini karena margin tipis akibat turunnya permintaan stainless steel dari China dan biaya produksi yang meningkat. Empat smelter diketahui telah melakukan shutdown sebagian, termasuk:
PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) dan PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) di IMIP, Sulawesi Tengah;
Huadi Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Konawe, Sulawesi Tenggara;
PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI).
Sumber: bloombergtechnoz.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.