Saham News
IHSG Masih Merah, Tapi Saham Ini Justru Menarik Diburu-Peluang di Tengah Tekanan
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 23 July 2024 Waktu baca 5 menit
DIGIVESTASI - Kebutuhan dana untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 1%-2% dari yang stagnan di kisaran 5% ternyata tidak sedikit. Terlebih lagi, untuk mencapai target ambisius Presiden Terpilih Prabowo Subianto sebesar 8% dalam lima tahun masa jabatannya.
Ekonom senior dan mantan Menteri Keuangan Indonesia periode 2013-2014, Chatib Basri, mengungkapkan bahwa untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6%-7%, diperlukan investasi terhadap PDB sebesar 41%-47%. Artinya, jika PDB nominal saat ini berada di angka Rp 19.500 triliun, maka tambahan investasi yang dibutuhkan berkisar antara Rp 780 triliun hingga Rp 1.950 triliun.
"Dalam nominal, jika PDB kita adalah Rp 19.500 triliun, kita membutuhkan tambahan investasi sebesar Rp 780 triliun jika ingin tumbuh 6%, atau Rp 1.950 triliun jika ingin tumbuh 7%," ujar Chatib melalui akun Instagramnya akhir tahun lalu, seperti dikutip Selasa (23/7/2024).
Untuk memperoleh dana tersebut, Chatib menekankan pentingnya efisiensi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih terbebani dengan incremental capital output ratio (ICOR) yang tinggi, yaitu investasi tambahan yang dibutuhkan untuk 1% pertumbuhan ekonomi sangat besar. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan di kisaran 5%.
Chatib menjelaskan bahwa ICOR Indonesia berada di angka 6,8. Ini berarti 1% pertumbuhan ekonomi membutuhkan tambahan rasio investasi terhadap PDB sebesar 6,8. Oleh karena itu, kebutuhan investasi terhadap PDB harus semakin tinggi untuk mendorong 1% pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, pemerintah juga harus menaikkan rasio tabungan domestik bruto terhadap PDB dari yang selama ini di kisaran 37%. "Karena tabungan lebih kecil dari investasi, kita perlu meningkatkan tabungan. Caranya adalah dengan menaikkan tabungan, meningkatkan rasio pajak terhadap PDB, artinya peningkatan penerimaan pajak melalui reformasi administrasi," ujar Chatib.
Selanjutnya, penting untuk meningkatkan produktivitas domestik guna menurunkan angka ICOR yang masih tinggi. Peningkatan produktivitas ini dapat dicapai melalui efisiensi ekonomi, perbaikan kualitas SDM, dan tata kelola pemerintahan yang baik.
Langkah ketiga adalah memperbesar aliran modal asing dalam bentuk penanaman modal asing (PMA) atau foreign direct investment (FDI). Dengan demikian, iklim investasi di Indonesia harus dijaga agar investor tertarik menanamkan modal di dalam negeri untuk membuka lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja domestik.
Prabowo Subianto sependapat dengan Chatib. Ia mengatakan bahwa untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%, dari yang selama 10 tahun terakhir stagnan di kisaran 5%, pemerintah harus melakukan efisiensi ekonomi, memastikan tata kelola birokrasi yang baik, dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang masuk akal.
"Saya sangat optimis. Kekayaan kita sangat besar, potensi kita sangat besar, tapi kita harus lebih efisien, kelola dengan baik, dan ambil kebijakan yang masuk akal," ujar Prabowo.
"Kita harus bertekad untuk mengurangi kebocoran, penyelewengan, dan kebijakan-kebijakan yang tidak menguntungkan kepentingan nasional dan rakyat," tegasnya.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.