Saham News
IHSG Masih Merah, Tapi Saham Ini Justru Menarik Diburu-Peluang di Tengah Tekanan
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 23 July 2024 Waktu baca 5 menit
DIGIVESTASI - Rupiah masih bergerak melemah setelah mundurnya Biden dari pilpres AS dan ketidakpastian ekonomi di Tiongkok. Rupiah bahkan kembali melewati level Rp16.200/US$. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan kemarin di level Rp 16.215/US$ di pasar spot, melemah 0,19%.
Mundurnya Biden dari pemilihan presiden AS diperkirakan akan meningkatkan ketidakpastian di pasar global, termasuk Indonesia. Ekonom Bank Danamon, Hosiana Situmorang, menjelaskan bahwa langkah Biden ini dapat meningkatkan ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan dan investasi di AS dan global.
"Situasi ini meningkatkan volatilitas di pasar uang dan modal, salah satu indikatornya adalah Volatility Index (VIX) yang kembali naik," ujar Hosiana, Di Indonesia, ketidakpastian juga meningkat karena adanya transisi presiden dari Joko Widodo ke Prabowo Subianto.
"Di tengah ketidakpastian global terkait pemilihan di AS dan Euro Area, domestik juga sedang bersiap untuk transisi presiden baru dan Pilkada," ujarnya.
Ketidakpastian ini bisa mendorong investor untuk mencari aset aman dan menjual aset lain, seperti rupiah, yang bisa menyebabkan rupiah tertekan.
"Semua hal ini membuat investor dan pelaku pasar memilih aset yang aman, salah satunya adalah USD, sehingga rupiah masih volatile cenderung melemah," tambahnya.
Sementara itu, di Tiongkok, Bank Sentral China (PBoC) secara mengejutkan memangkas suku bunga acuan untuk tenor satu dan lima tahun pada hari ini, Senin (22/7/2024).
Pemangkasan suku bunga ini diharapkan dapat mendorong perekonomian China yang sedang lesu. Kebijakan terbaru PBoC juga diharapkan berdampak positif bagi Indonesia yang merupakan mitra dagang utama China.
Pemangkasan suku bunga ini mengejutkan karena PBoC telah menahan suku bunga sejak September 2023 atau selama 10 bulan. Sejumlah analis menilai langkah PBoC ini sebagai sinyal kuat bahwa China mulai "putus asa" untuk menggenjot sektor properti yang belum pulih setelah krisis.
Dilansir dari Reuters, China mengejutkan pasar dengan menurunkan suku bunga jangka pendek utama dan tingkat peminjaman benchmark sebagai upaya untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia.
Pemotongan ini dilakukan setelah China melaporkan data ekonomi kuartal kedua yang lebih lemah dari perkiraan minggu lalu dan para pemimpin puncaknya mengadakan pleno yang terjadi sekitar setiap lima tahun sekali.
Negara tersebut hampir menghadapi deflasi, krisis properti yang berkepanjangan, utang yang meningkat pesat, serta sentimen konsumen dan bisnis yang lemah. Ketegangan perdagangan juga meningkat, karena para pemimpin global semakin waspada terhadap dominasi ekspor China.
Secara teknikal, pergerakan rupiah dalam basis waktu per jam kini berbalik arah menjadi melemah. Paling dekat, resistance di Rp16.275/US$ yang diambil dari high candle intraday 9 Juli 2024 masih rawan diuji sebagai area pelemahan.
Sementara itu, support sebagai area pembalikan arah menguat bisa dicermati di Rp16.185/US$ yang didapatkan dari low candle intraday 19 Juli 2024.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.