Awas! 9 Sinyal Kuat Ekonomi Indonesia Sedang Tidak Sehat

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 09 June 2025 Waktu baca 5 menit

Illustrasi

Tanda-tanda perlambatan ekonomi mulai tampak di Indonesia. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah indikator menunjukkan bahwa kondisi ekonomi nasional sedang tidak dalam keadaan optimal. Mulai dari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), peningkatan angka pengangguran, hingga melambatnya kinerja sektor perbankan. Semua hal ini menjadi sinyal peringatan bahwa perekonomian Indonesia memerlukan perhatian yang serius dan langkah mitigasi yang tepat.

 

Berikut ini sembilan indikator yang kini menjadi tanda peringatan bagi perekonomian Indonesia:

1. PMI Manufaktur Terus Mengalami Kontraksi
Data Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) Manufaktur Indonesia yang diterbitkan oleh S&P untuk Mei 2025 kembali menunjukkan kontraksi pada angka 47,4. Ini merupakan bulan kedua berturut-turut PMI berada di bawah ambang batas ekspansi, mengindikasikan menurunnya aktivitas produksi serta permintaan, baik domestik maupun ekspor.

 

S&P Global menjelaskan bahwa aktivitas produksi dan pesanan baru terus menurun, dengan penurunan pesanan baru yang bahkan lebih tajam dibandingkan bulan April. Ini merupakan penurunan terdalam sejak Agustus 2021.

 

2. Terjadinya Deflasi Berulang
Indonesia kembali mengalami deflasi sebesar 0,37% pada Mei 2025, menjadi yang ketiga kalinya dalam tahun ini. Secara tahunan, angka inflasi tercatat sebesar 1,60% (yoy).

 

“Pada Mei terjadi deflasi 0,37%,” ungkap Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa, Pudji Ismartini, dalam konferensi pers. Ia menjelaskan, “Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi 1,40% dan berkontribusi sebesar 0,41% terhadap deflasi.”

 

Komoditas utama penyumbang deflasi adalah cabai merah dan cabai rawit (0,12%), bawang merah (0,09%), ikan segar (0,05%), bawang putih (0,04%), serta daging ayam ras (0,01%).

 

Deflasi pada Mei merupakan yang ketiga pada tahun ini setelah Januari (-0,76%) dan Februari (-0,48%). Deflasi ini bisa diartikan positif karena adanya penurunan harga pangan dan meredanya lonjakan biaya listrik, namun juga bisa menjadi indikasi negatif berupa melemahnya daya beli masyarakat akibat permintaan yang menurun.

 

3. Pertumbuhan PDB Kuartal I Hanya 4,87%
Ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 4,87% pada kuartal pertama 2025, yang merupakan angka pertumbuhan paling rendah sejak masa pandemi. Padahal, momentum Ramadan seharusnya mendorong konsumsi, namun pengaruhnya belum maksimal.

 

4. Surplus Perdagangan Menyusut
Pada April 2025, surplus neraca perdagangan Indonesia tercatat hanya sebesar US$150 juta. Ekspor mencapai US$20,74 miliar, sedangkan impor US$20,59 miliar. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh turunnya ekspor, yang dapat memengaruhi transaksi berjalan dan stabilitas nilai tukar rupiah.

 

Deputi BPS Pudji Ismartini menjelaskan bahwa nilai ini merupakan yang terendah selama 60 bulan terakhir dalam kondisi surplus, tepatnya sejak Mei 2020. Menurunnya surplus dipicu oleh ekspor yang melemah lebih cepat dibandingkan kenaikan impor.

 

5. Penurunan Ekspor yang Signifikan
Ekspor Indonesia pada April 2025 tercatat sebesar US$20,74 miliar—terendah dalam 12 bulan terakhir. Ekspor migas turun 13,38% menjadi US$1,17 miliar, sementara ekspor non-migas naik 7,17% menjadi US$19,57 miliar. Dampaknya termasuk penurunan penerimaan devisa, berkurangnya produksi, hingga potensi PHK di sektor terkait.

 

6. Kenaikan Jumlah PHK
Jumlah PHK terus meningkat. Apindo mencatat bahwa hampir 74.000 peserta BPJS Ketenagakerjaan telah mengalami PHK dari Januari hingga Maret 2025. Pada tahun 2024, tercatat 257.471 pekerja keluar dari kepesertaan BPJS karena PHK, dengan 154.010 mengajukan klaim JHT. Pada awal 2025 hingga Maret, ada 40.683 klaim PHK.

 

Situasi ini menekan daya beli masyarakat dan melemahkan konsumsi domestik, berdampak pada sektor-sektor seperti ritel, manufaktur, dan jasa, serta menekan produktivitas dan investasi.

 

7. Jumlah Pengangguran Bertambah
Pada Februari 2025, jumlah pengangguran di Indonesia bertambah sebanyak 83.000 orang, menjadi total 7,28 juta. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut bahwa kenaikan ini adalah sebesar 1,11% dari Februari 2024.

 

Konsekuensinya bukan hanya penurunan daya beli, tetapi juga potensi kenaikan angka kemiskinan karena berkurangnya pendapatan rumah tangga, yang memukul sektor konsumsi dan menurunkan pendapatan industri.

 

8. Pertumbuhan Kredit Bank Melambat
Per April 2025, pertumbuhan kredit perbankan hanya mencapai 8,88% secara tahunan. Ini berisiko menghambat ekspansi usaha dan konsumsi masyarakat, khususnya sektor yang bergantung pada pinjaman.

 

Dian Ediana Rae dari OJK menyebut bahwa kredit bank milik negara tumbuh 8,82% dalam empat bulan pertama 2025, menjadikannya motor utama pertumbuhan kredit saat ini.

 

9. Laba Bank Besar Melandai
Empat bank besar nasional hanya mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih sekitar 0,55% yoy. Penurunan ini dapat mendorong bank memperketat pemberian kredit, memperlambat roda ekonomi.

 

Faktor utama adalah penurunan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII), seperti yang dialami BCA dan Mandiri di kuartal I-2025. Jika tren ini berlanjut, bank mungkin menaikkan suku bunga pinjaman untuk menjaga margin, membebani sektor usaha dan konsumen.

 

Dari sisi investor, rendahnya pertumbuhan laba dapat mengurangi minat terhadap saham sektor perbankan, memengaruhi harga saham, dan menurunkan arus modal ke sektor keuangan.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.