8 Produk Israel Diboikot Warga Dunia, Ada yang Laris di Indonesia

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 26 October 2023 Waktu baca 5 menit

Konflik Israel dengan Hamas telah mengakibatkan banyak korban di antara warga Palestina. Pada tanggal 16 Oktober 2023, Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan 2.670 kematian warga Palestina dan sekitar 9.600 luka akibat serangan udara dan bombardir Israel. Konflik ini telah meningkatkan dukungan terhadap Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) di beberapa negara.

 

Gerakan BDS bertujuan mendorong konsumen di seluruh dunia untuk berhenti membeli produk asal Israel guna memberikan tekanan ekonomi kepada Israel agar Palestina diperlakukan secara adil. Gerakan BDS umumnya menargetkan perusahaan yang terlibat dalam pemukiman ilegal, eksploitasi sumber daya alam di wilayah Palestina, dan penggunaan tenaga kerja Palestina.

 

Produk yang diboikot melalui gerakan BDS meliputi:

  1. Puma: Diboikot karena menjadi sponsor Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA) yang beroperasi di pemukiman ilegal di tanah Palestina.
  1. HP: Ditargetkan karena menyediakan teknologi yang digunakan dalam aktivitas Israel terkait apartheid, pendudukan, dan pemukiman kolonial.
  1. Siemens: Dituduh terlibat dalam upaya ilegal Israel untuk membangun EuroAsia Interconnector di pemukiman, yang menghubungkan jaringan listrik Israel ke Eropa.
  1. AXA: Dikritik karena berinvestasi di bank-bank Israel yang terlibat di wilayah Palestina.
  1. Buah-buahan dan Sayuran Israel: Mendorong konsumen untuk tidak membeli produk yang diberi label "Produksi di Israel" jika berasal dari wilayah Palestina.
  1. SodaStream: Diboikot karena peran aktifnya dalam kebijakan yang melibatkan suku Bedouin di Naqab.
  1. Ahava: Diberikan sanksi karena memiliki fasilitas produksi di pemukiman ilegal Israel.
  1. Sabra Hummus: Usaha patungan antara PepsiCo dan Strauss Group, yang menghadapi boikot karena dukungan finansialnya kepada militer Israel.

 

Dampak gerakan BDS terhadap ekonomi Israel masih diperdebatkan, namun para ahli menyarankan bahwa dampaknya mungkin tidak signifikan karena sifat ekspor Israel, yang sebagian besar terdiri dari barang-barang intermediate dan barang yang sulit digantikan. Namun, data dari Bank Dunia menunjukkan penurunan yang signifikan dalam ekspor barang intermediate dari tahun 2014 hingga 2016, yang mengakibatkan kerugian sekitar $6 miliar.

Sumber: CNBC Indonesia

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.