Pemerintah Bersiap Gantikan Gas LPG dengan Alternatif Baru

Berita Terkini - Diposting pada 12 May 2024 Waktu baca 5 menit

DIGIVESTASI - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan  penggunaan bahan bakar gas cair (LPG) bisa digantikan melalui proyek jaringan gas dalam negeri (jargas). Selain itu, kegiatan impor LPG juga akan berdampak. Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI Arifin Tasrif,  impor LPG pasti berkurang karena adanya proyek jaringan gas dalam negeri (jargas).

 

Ia juga menegaskan, proyek tangki bensin dapat menggantikan peran LPG. 
Saat ini Kementerian ESDM sedang mendorong pembangunan infrastruktur pipa gas dalam negeri, baik untuk keperluan domestik maupun industri.  Arifin dari Musrenbangnas, JCC Jakarta, dikutip Sabtu (11/5/2024) mengatakan: “Cadangan gas bisa menggantikan impor LPG. Kalau tidak, devisa kita akan kering. Selama ini, kami akan menghasilkan banyak gas.” 

 

“Memang benar kami juga berupaya membangun lebih banyak infrastruktur gas agar bisa kami manfaatkan. Pak Presiden ya, katanya ini jalan utama, ada sekat dan gasnya juga. “Nantinya bisa juga menjadi tangki bensin,” lanjutnya. 
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan  gas bumi merupakan salah satu sumber energi utama di era transisi energi, khususnya dalam mencapai target net zero emisi (NZE) pada tahun 2060. 
Oleh karena itu, diperlukan infrastruktur terpadu yang dapat mendistribusikan gas dari daerah sumber gas  ke daerah penerima gas di seluruh Indonesia. 

 

"Kita juga akan sambung gas. Alhamdulillah ini saat yang tepat, kita sekarang banyak menemukan gas  baru, ladang gas  baru. Jadi gas dari segi emisi juga  lebih bagus banyak batubara," kata Dadan  di National Konferensi Energi. Diteruskan ke Kantor Kementerian Koordinator  Perekonomian. Infrastruktur pipa gas sepanjang Sumatera dan integrasi Sumatera-Jawa merupakan kunci distribusi gas nasional, kata Dadan. Hal itu dilakukan untuk memanfaatkan potensi gas alam di wilayah kerja Agung dan Andaman, Aceh, sehingga gas dari tanjung Sumatera dapat dimanfaatkan di Pulau Jawa dan wilayah Sumatera lainnya. 

 

Dadan menjelaskan manfaat membangun infrastruktur jaringan gas adalah dapat mendukung harga gas yang lebih terjangkau dengan biaya transportasi atau tol yang lebih rendah. 
“Untuk memenuhi kebutuhan gas  industri, pembangkit listrik, dunia usaha, dan rumah tangga,” kata Dadan. 

 

Dalam pemaparannya, Dadan menyampaikan saat ini telah dibangun infrastruktur  pipa gas Cisem (Cirebon-Semarang) Tahap 1 dengan nilai investasi sebesar Rp 1,13 triliun. Saat ini jaringan Cisem Tahap 2 pada tahun 2024  membutuhkan investasi sebesar Rp1,33 triliun dan pada tahun 2025 membutuhkan investasi sebesar Rp2,01 triliun. 

 

Lebih lanjut, ia mengungkapkan Program Gas Rumah Tangga Cisem dan Dusem (Dumai-Sei Mangkei) mampu mengurangi subsidi LPG 3 kg hingga Rp 0,63 triliun per tahun. 
“Dan menghemat devisa melalui impor LPG senilai Rp 1,08 triliun per tahun. Penghematan biaya memasak sebesar Rp 0,16 triliun per tahun,” ujarnya.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.