Berita Terkini
4 Cara Sederhana Mengelola Emosi Saat Berbisnis-Kunci Sukses Pelaku Usaha
/index.php
Berita Terkini - Diposting pada 18 November 2023 Waktu baca 5 menit
Terdengar kabar bahwa TikTok Shop telah melakukan pertemuan dengan lima e-commerce, termasuk Tokopedia, Blibli, dan Bukalapak. Momentum Works, perusahaan venture builder asal Singapura, mengungkapkan bahwa induk Shopee, Sea Group, tengah bersiap untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat.
Sea Group mencatatkan kerugian sebesar US$ 144 juta atau sekitar Rp 2,2 triliun. Hal ini mengejutkan mengingat sebelumnya perusahaan asal Singapura ini berhasil mencatatkan keuntungan selama tiga kuartal berturut-turut.
“Sebagian besar kerugian berasal dari Shopee,” ujar CEO Momentum Works, Jianggan Li, dalam keterangan pers pada Kamis (16/11).
Jianggan Li menyoroti pertumbuhan nilai transaksi bruto (GMV) Shopee yang hanya mencapai 5% secara tahunan (year on year/YoY) dan 11,2% secara kuartalan (quarter to quarter/QtQ), mencapai US$ 20,1 miliar atau sekitar Rp 311 triliun selama kuartal III.
Sea Group meningkatkan anggaran penjualan dan pemasaran Shopee sebesar 49,7% YoY menjadi US$ 862 juta atau sekitar Rp 13,4 triliun selama kuartal III. Langkah ini diambil meskipun perusahaan sebelumnya telah mengurangi biaya ini pada kuartal-kuartal sebelumnya.
Momentum Works memperkirakan bahwa penutupan TikTok Shop di Indonesia pada 4 Oktober tidak akan berdampak besar terhadap Shopee, mengingat Indonesia hanya menyumbang sepertiga dari total transaksi TikTok Shop di Asia Tenggara. Selain itu, TikTok Shop mencatatkan hampir tiga order per hari sebelum tutup di Indonesia.
“Mengembalikan volume transaksi yang hilang akan sulit bagi siapa pun,” kata Momentum Works. “Shopee mungkin sudah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan TikTok Shop kembali, cepat atau lambat.”
CEO Sea Group, Forrest Li, menyampaikan bahwa perusahaan bertekad untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis e-commerce, yaitu Shopee, guna maksimalkan profitabilitas jangka panjang.
“Hal ini dilakukan agar dapat memberikan pengembalian investasi terbesar bagi para pemegang saham dalam jangka panjang,” ujar Forrest Li dalam keterangan pers pada Selasa malam (14/11). “Untuk mencapai profitabilitas jangka panjang, diperlukan skala dan kepemimpinan pasar yang kuat.”
Sea Group, guna mencapai tujuan jangka panjang, akan mempertimbangkan tiga faktor operasional utama, yaitu pertumbuhan, profitabilitas saat ini, dan peningkatan pangsa pasar.
“Pada periode ini, kami akan fokus pada investasi bisnis untuk meningkatkan pangsa pasar dan memperkuat kepemimpinan pasar,” ujar Forrest Li.
Li juga menyatakan bahwa keuntungan selama tiga kuartal berturut-turut telah meningkatkan cadangan kas dan efisiensi operasional secara signifikan. Oleh karena itu, Sea Group melihat peluang baik untuk membangun ekosistem konten e-commerce dengan efisien, khususnya terkait live streaming.
“Kami berkomitmen mempertahankan posisi kas yang kuat, tidak bergantung pada pendanaan eksternal, serta berinvestasi sesuai kemampuan pada waktu dan laju yang kita pilih. Pada saat yang sama, mengingat penetrasi e-commerce masih rendah di sebagian besar pasar, kami merasa bertanggung jawab untuk mendukung pertumbuhan seluruh ekosistem e-commerce,” tandasnya.
Sumber: katadata.co.id
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.