Bisnis | Ekonomi
Donald Trump Tak Gentar! Iran Perketat Penutupan Selat Hormuz-Dunia Waspada Dampaknya
/index.php
Berita Terkini - Diposting pada 10 April 2026 Waktu baca 5 menit
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa ia telah memerintahkan para menterinya untuk segera memulai perundingan damai secara langsung dengan Lebanon.
Instruksi tersebut disampaikan pada hari Kamis, sehari setelah serangan besar Israel yang menewaskan 303 orang di Lebanon—peristiwa yang oleh warga Beirut disebut sebagai “pembantaian Rabu kelam”.
“Menyusul permintaan berulang dari Lebanon untuk membuka negosiasi langsung dengan Israel, saya telah menginstruksikan kabinet kemarin untuk segera memulai perundingan tersebut,” ujar Netanyahu dalam sebuah pernyataan.
Ia menambahkan bahwa pembicaraan akan difokuskan pada pelucutan senjata Hizbullah serta upaya membangun hubungan damai antara Israel dan Lebanon.
Perundingan tersebut akan dipimpin oleh duta besar Israel untuk Washington, Yechiel Leiter.
Sementara itu, pihak yang akan memimpin delegasi Lebanon belum dipastikan, meskipun sejumlah laporan media lokal menyebutkan kemungkinan nama duta besar Lebanon untuk Washington, Nada Mouawad, atau mantan duta besar Simon Karam.
Israel menegaskan tidak akan menghentikan serangan udara yang sedang berlangsung di Lebanon selama proses negosiasi, dengan seorang pejabat Zionis menyatakan bahwa pembicaraan akan tetap berlangsung “di bawah tembakan”.
Di sisi lain, Beirut menuntut adanya gencatan senjata terlebih dahulu sebelum memulai proses negosiasi apa pun.
Seorang pejabat Amerika Serikat pada hari Kamis menyampaikan bahwa Israel dan Lebanon dijadwalkan akan mengadakan pembicaraan pada pekan depan di Washington.
“Kami dapat memastikan bahwa Departemen Luar Negeri akan menjadi tuan rumah pertemuan minggu depan guna membahas negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung antara Israel dan Lebanon,” ujar pejabat tersebut, mengonfirmasi laporan sebelumnya dari sumber yang mengetahui upaya diplomatik itu.
Pembicaraan ini akan berlangsung tidak lama setelah Amerika Serikat dan Iran memulai dialog di Pakistan, setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata selama dua minggu. Pakistan dan Iran menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut mencakup seluruh wilayah, termasuk Lebanon, namun Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump membantah hal tersebut.
Sumber resmi dari Lebanon mengatakan kepada The New Arab bahwa pertemuan awal di Washington akan bersifat persiapan dan pada tahap awal akan dilakukan di tingkat duta besar.
Sumber tersebut juga menyebutkan bahwa Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam tengah mempersiapkan kunjungan ke Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya mencapai penyelesaian.
Anggota parlemen Hizbullah, Ali Fayyad, menyatakan pada hari Kamis bahwa kelompoknya menolak perundingan langsung dengan Israel, dan menegaskan bahwa pemerintah Lebanon harus menjadikan gencatan senjata sebagai syarat utama sebelum melangkah lebih jauh.
Fayyad juga menekankan bahwa pemerintah Lebanon perlu memprioritaskan penarikan pasukan Israel dari wilayahnya serta pemulangan para pengungsi ke tempat tinggal mereka.
Pembantaian 303 Orang pada Rabu Kelam
Perundingan langsung ini akan menjadi langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi kedua negara, yang selama 78 tahun sejarah Israel belum pernah menjalin hubungan diplomatik resmi.
Upaya sebelumnya dari pejabat Lebanon untuk memulai negosiasi sempat ditolak oleh Israel, yang menuntut pemerintah Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah yang didukung Iran sebagai syarat sebelum pembicaraan damai dimulai.
Sekitar satu jam sebelum pernyataan Netanyahu dirilis, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan bahwa negosiasi langsung dengan Israel merupakan “satu-satunya solusi” atas krisis yang dihadapi negaranya.
Pernyataan ini muncul sehari setelah jet tempur Israel menewaskan 303 orang di berbagai wilayah Lebanon dalam serangan udara terbesar selama enam minggu perang dengan Hizbullah. Serangan tersebut menyasar kawasan sipil yang padat penduduk, termasuk Beirut.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel pada hari Rabu telah mencapai 303 orang, dengan 1.150 orang mengalami luka-luka.
Dalam keterangannya, Pusat Operasi Darurat Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa proses pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di sejumlah lokasi, dengan tim berupaya mengevakuasi jenazah dari bawah reruntuhan serta mengidentifikasi korban, termasuk melalui uji DNA.
Kementerian tersebut juga menambahkan bahwa sejak 2 Maret, jumlah korban akibat serangan Israel di Lebanon telah meningkat menjadi 1.888 orang meninggal dunia dan 6.092 orang terluka.
Sumber: sindonews.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.