Harga Bitcoin Merosot Tajam ke $65.000 Akibat Gejolak Pasar Global - Ini Penyebab & Prediksinya

Crypto News - Diposting pada 28 March 2026 Waktu baca 5 menit

Harga Bitcoin kembali tersungkur. Pada perdagangan 28 Maret 2026, nilai aset kripto terbesar di dunia itu merosot tajam hingga menyentuh level US$65.000 per BTC, sebuah koreksi yang datang di tengah eskalasi ketegangan geopolitik global yang tak kunjung mereda. Gelombang aksi jual menyapu berbagai aset berisiko secara bersamaan, dan kripto tidak luput dari sapuannya.

 

Penurunan ini menandai babak volatilitas baru bagi Bitcoin, yang sebelumnya sempat bergerak dalam tren yang relatif stabil. Namun begitu ketidakpastian global kembali memuncak, investor mulai bergerak ke arah yang sudah sangat familiar: melepas aset berisiko dan berlindung di balik instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah. Bitcoin, dalam konteks ini, masuk dalam kategori yang pertama dilepas.

 

Ada ironi yang menarik di sini. Selama bertahun-tahun, Bitcoin kerap digadang-gadang sebagai safe haven alternatif, pelindung nilai di kala dunia bergolak. Namun kenyataan di lapangan berbicara berbeda. Dalam kondisi krisis yang benar-benar ekstrem, aset kripto justru ikut terseret arus koreksi, bukan melawan. Tekanan likuiditas yang menguat dan sentimen risk-off yang menguasai pasar global membuat narasi itu terasa kurang meyakinkan, setidaknya untuk saat ini.

 

Dari sisi makroekonomi, tekanan juga datang dari arah yang sudah dikenal: kebijakan suku bunga global yang masih berada di teritori ketat. Kondisi ini mempersempit ruang gerak likuiditas di pasar secara keseluruhan, dan aset-aset dengan volatilitas tinggi seperti Bitcoin selalu menjadi yang paling cepat merasakan efeknya ketika keran likuiditas mulai mengecil.

 

Yang memperburuk situasi adalah efek domino yang terjadi di pasar derivatif. Ketika harga Bitcoin meluncur ke level US$65.000, posisi-posisi leverage tinggi yang tidak mampu bertahan langsung terkena likuidasi paksa dalam jumlah besar. Gelombang likuidasi itu pada gilirannya mempercepat tekanan jual dan memperdalam koreksi jauh lebih cepat dari yang mungkin terjadi dalam kondisi pasar normal.

 

Kondisi ini sekali lagi mempertegas satu hal yang sebenarnya sudah lama diketahui: Bitcoin belum sepenuhnya lepas dari pengaruh dinamika global. Geopolitik, kebijakan moneter, dan sentimen pasar masih punya cengkeraman yang kuat terhadap pergerakan harganya. Narasi digital gold memang tetap hidup dalam diskusi jangka panjang, tetapi dalam cakrawala jangka pendek, Bitcoin masih bergerak mengikuti arus besar sentimen pasar bukan melawannya.

 

Di sisi lain, tidak semua pelaku pasar melihat koreksi ini sebagai berita buruk. Sebagian investor institusional justru memandang penurunan tajam seperti ini sebagai momen yang ditunggu-tunggu. Dalam siklus kripto sebelumnya, fase koreksi yang dipicu oleh guncangan sentimen eksternal sering kali menjadi titik masuk strategis bagi pemain besar, sebelum harga akhirnya pulih dan bergerak kembali ke atas.

 

Meski begitu, kehati-hatian tetap tidak bisa dikesampingkan. Selama konflik geopolitik belum menunjukkan tanda-tanda resolusi yang nyata dan ketidakpastian global masih menjadi warna dominan di pasar, Bitcoin diperkirakan akan terus bergerak dalam pola yang tidak mudah ditebak, dengan potensi fluktuasi tajam yang bisa datang dari segala arah, kapan saja.

 

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.