Berita Terkini
Timur Tengah Memanas! NATO Bereaksi atas Rencana Blokade Hormuz oleh AS-Apa Dampaknya ke Dunia?
/index.php
Teknologi Terkini - Diposting pada 06 April 2026 Waktu baca 5 menit
Industri semikonduktor di China mencatatkan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah pada tahun lalu, didorong oleh meningkatnya permintaan kecerdasan buatan (AI), keterbatasan pasokan chip memori, serta tekanan dari pembatasan ekspor yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS).
Kebijakan dari Washington tersebut justru mendorong Beijing untuk memperkuat sektor teknologi domestiknya secara besar-besaran.
Para analis dan pelaku industri memperkirakan tren peningkatan pendapatan ini akan berlanjut pada tahun ini, yang menunjukkan bagaimana perusahaan chip China mampu memanfaatkan tingginya permintaan dari perusahaan teknologi lokal yang tengah berlomba membangun infrastruktur AI.
Mengutip CNBC International dan Bloomberg pada Minggu (5/4/2026), Paul Triolo dari Albright Stonebridge Group menyatakan bahwa pembatasan ekspor AS terhadap teknologi China dalam beberapa tahun terakhir justru menjadi pendorong utama lonjakan permintaan chip. Ia menambahkan bahwa hal tersebut turut memperkuat pertumbuhan sektor lain seperti kendaraan listrik dan pusat data AI.
Triolo menyebut bahwa pembatasan ekspor tersebut telah memberikan dorongan signifikan terhadap permintaan chip sekaligus mendukung ekspansi sektor kendaraan listrik dan pusat data berbasis AI.
Perusahaan chip terbesar di China, Semiconductor Manufacturing International Co. (SMIC), melaporkan bahwa pendapatannya pada tahun 2025 meningkat 16% dibandingkan tahun sebelumnya hingga mencapai rekor US$9,3 miliar (Rp158,1 triliun). Berdasarkan proyeksi analis LSEG, pendapatan perusahaan tersebut bahkan diperkirakan dapat melampaui US$11 miliar (Rp187 triliun) pada tahun 2026.
Kinerja positif juga ditunjukkan oleh produsen chip lainnya, Hua Hong, yang mencatat pendapatan kuartal keempat sebesar US$659,9 juta (Rp11,21 miliar), sekaligus menjadi rekor. Perusahaan tersebut memperkirakan penjualan ke depan akan tetap stabil di kisaran US$650 juta hingga US$660 juta.
Sementara itu, Moore Threads yang berambisi bersaing dengan Nvidia memperkirakan pendapatan tahun 2025 berada di kisaran 1,45 miliar hingga 1,52 miliar yuan (Rp3,5 triliun hingga Rp3,6 triliun), yang mencerminkan pertumbuhan tahunan sebesar 231% hingga 247%.
Triolo menjelaskan bahwa pertumbuhan kendaraan listrik dan infrastruktur pendukungnya telah meningkatkan permintaan untuk chip “mature node” atau teknologi yang lebih lama. Namun di sisi lain, permintaan untuk chip berteknologi tinggi melonjak tajam seiring pesatnya perkembangan AI.
Ia menegaskan bahwa sektor kendaraan listrik mendukung permintaan chip konvensional, sementara tren AI mendorong lonjakan permintaan chip yang lebih canggih.
Pembatasan dari AS yang membatasi akses China terhadap teknologi utama telah mempercepat upaya Beijing untuk mencapai kemandirian teknologi dan mengurangi ketergantungan pada Amerika. Kebijakan terbaru AS yang membatasi ekspor chip Nvidia ke China juga mendorong pemerintah China untuk mengarahkan perusahaan lokal menggunakan alternatif dalam negeri, dengan perusahaan seperti Huawei mulai mengisi kekosongan tersebut meskipun performanya masih belum menyamai produk AS.
Parv Sharma dari Counterpoint Research menilai bahwa meskipun China belum unggul dalam performa GPU kelas atas, solusi lokal mampu menutup kekurangan kapasitas komputasi domestik sekaligus mendorong pertumbuhan pendapatan perusahaan.
Ia menyatakan bahwa meskipun performa GPU China belum terdepan, produk dalam negeri tetap mampu mengisi kebutuhan komputasi dan mendukung peningkatan pendapatan.
Sektor chip memori di China juga mengalami keuntungan besar. Kelangkaan global chip memori yang menjadi komponen penting bagi pusat data AI dan perangkat elektronik, di tengah tingginya permintaan, telah menyebabkan lonjakan harga yang signifikan.
Menurut Bloomberg, ChangXin Memory Technologies (CXMT) mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 130% secara tahunan menjadi lebih dari 55 miliar yuan atau sekitar US$8 miliar (Rp136 triliun). Sementara itu, pasar high-bandwidth memory (HBM) masih didominasi oleh Samsung, SK Hynix, dan Micron, namun pembatasan ekspor HBM ke China membuka peluang bagi CXMT untuk berkembang.
Phelix Lee dari Morningstar menyebut bahwa setelah akses HBM dibatasi, CXMT menjadi satu-satunya alternatif domestik. Meskipun teknologinya masih tertinggal, produk seperti HBM2 dan HBM2e tetap mendapat sambutan positif dari pasar lokal.
Triolo menambahkan bahwa pengalaman dalam produksi chip memori dapat membantu pengembangan teknologi chip lain seperti GPU. Ia menilai bahwa pabrik memori di China kini berperan sebagai pusat pengembangan teknologi proses canggih, sesuatu yang sulit dibayangkan sebelum adanya pembatasan ekspor AS pada Oktober 2022.
Ia menyebut bahwa seluruh fasilitas produksi memori di China kini menjadi inkubator bagi inovasi teknologi proses yang lebih maju.
Meskipun mencatat kinerja kuat, China masih menghadapi tantangan besar karena perusahaan seperti SMIC dan Hua Hong belum mampu memproduksi chip tercanggih secara massal seperti TSMC di Taiwan. Hal ini disebabkan keterbatasan akses terhadap peralatan canggih dari ASML asal Belanda akibat pembatasan ekspor.
Triolo menekankan bahwa upaya China untuk membangun kembali hampir seluruh rantai pasokan semikonduktor merupakan tantangan besar yang membutuhkan waktu panjang untuk mengatasi pembatasan dari AS di sektor-sektor kunci.
Ia menegaskan bahwa posisi China unik karena berusaha membangun kembali seluruh rantai pasokan semikonduktor, yang merupakan tugas kompleks dan memakan waktu.
Sebagai penutup, Sharma mengingatkan adanya potensi risiko kelebihan kapasitas pada chip berteknologi rendah. Ia menilai bahwa keberlanjutan pertumbuhan industri China akan sangat bergantung pada keberhasilan mereka naik ke rantai nilai yang lebih tinggi, seperti pengembangan HBM canggih dan chip logika generasi berikutnya.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.