Marak Penipuan Dengan Teknologi AI, Kerugian Capai Rp 24,6 Triliun

Teknologi Terkini - Diposting pada 22 November 2023 Waktu baca 5 menit

Banyak warga lanjut usia di Amerika Serikat (AS) menjadi korban penipuan yang menggunakan teknologi AI. Menurut Komisi Perdagangan Federal (FTC), para penipu memanfaatkan teknologi AI untuk mengkloning suara orang yang dikenal oleh korban. Hal ini menyebabkan para korban mengalami kerugian sebesar US$1,6 miliar (Rp 24,6 triliun) selama tahun 2022.

 

Senator Elizabeth Warren mengatakan bahwa angka kerugian tersebut mungkin lebih tinggi karena banyak korban yang tidak melaporkan penipuan karena merasa malu. Maraknya penipuan dengan memanfaatkan teknologi AI disebabkan oleh kebijakan yang longgar dalam mengatur penerapan teknologi tersebut.

 

Kasus penipuan ini mendorong anggota parlemen AS untuk mempercepat pengesahan Undang-Undang yang mengatur AI dan teknologi canggih lainnya. Hal ini dilakukan untuk melindungi konsumen dari penipuan yang sangat meyakinkan ini.

 

Dalam sidang komite, 10 kategori penipuan teratas yang dibagikan adalah peniruan identitas dan penipuan finansial, robocall, penipuan komputer, catfishing di aplikasi kencan, pencurian identitas, dan lain-lain. Penipuan yang paling menonjol menggunakan teknologi AI adalah dengan meniru suara orang yang kemudian menelepon korban, anggota keluarga, atau orang yang dicintainya untuk meminta uang.

 

Beberapa kesaksian dalam persidangan menyebutkan bahwa mereka menerima telepon yang terdengar persis seperti orang yang mereka cintai sedang dalam bahaya, terluka, atau sedang disandera. Salah satu pasangan kakek nenek yang menjadi korban, menerima telepon dari orang yang mereka pikir adalah putri mereka. Dia terdengar tertekan dan meminta bantuan.

 

Gary Schildhorn, seorang pengacara yang menjadi korban penipuan kloning suara AI, hampir mengirimkan US$9.000 kepada penipu tersebut sampai dia mengonfirmasi kepada menantu perempuannya bahwa itu adalah upaya pemerasan. Penipu yang menyamar sebagai pengacara menelepon Schildhorn meminta dana untuk menyelamatkan putranya dari penjara karena menyebabkan kecelakaan mobil dan gagal dalam tes breathalyzer.

 

Tahir Ekin, PhD, direktur Pusat Analisis dan Ilmu Data Negara Bagian Texas, yang hadir pada sidang tersebut, bersaksi bahwa strategi peniruan identitas yang disengaja ini akan membuat kepercayaan dan daya tarik emosional mereka. Oleh karena itu, memprioritaskan peningkatan data dan literasi AI di kalangan lansia Amerika, dan secara aktif melibatkan mereka dalam upaya pencegahan dan deteksi, merupakan hal yang penting.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

TAG :