Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Saham News - Diposting pada 24 May 2025 Waktu baca 5 menit
Ketegangan akibat perang tarif global mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati kemungkinan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan kinerja pasar saham Indonesia.
Chief Investment Officer – Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Samuel Kesuma, menyatakan bahwa konflik perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dengan beberapa negara mitranya sebelumnya telah menekan ekspektasi pertumbuhan ekonomi global.
Sejumlah lembaga internasional seperti Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Dana Moneter Internasional (IMF), serta Bank Dunia telah melakukan penyesuaian ke bawah terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia.
“Jika tarif tinggi ini berlangsung dalam jangka panjang, risikonya bisa berujung pada stagflasi, stagnasi, bahkan potensi resesi,” ujar Samuel dalam pernyataan resminya yang dikutip pada Jumat (23/5/2025).
Namun demikian, Samuel menilai bahwa arah perkembangan konflik tarif saat ini mulai menunjukkan perbaikan.
Amerika Serikat dilaporkan mulai kembali menjalin dialog dengan sejumlah negara mitra dagangnya, bahkan telah mencapai kesepakatan dengan Inggris.
Perkembangan ini memberi dampak positif terhadap pasar keuangan global, termasuk di Indonesia.
Menurut Samuel, tekanan jual dari investor asing di bursa saham domestik mulai berkurang. Stabilitas nilai tukar rupiah juga mulai terjaga.
Saat ini, nilai tukar rupiah menunjukkan kecenderungan stabil setelah sebelumnya sempat tertekan akibat ketidakpastian global.
Di sisi dalam negeri, Samuel mengungkapkan bahwa para pelaku pasar tengah menantikan keputusan Bank Indonesia mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya, khususnya terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan.
“Sejak akhir tahun 2022, Indonesia berada pada masa dengan suku bunga yang tinggi. Jika suku bunga diturunkan, hal ini akan meningkatkan likuiditas dan menjadi faktor kunci dalam mendorong pemulihan ekonomi,” jelasnya.
Selain itu, pengeluaran pemerintah juga dinilai sebagai pendorong penting yang berperan besar. Dalam situasi pelemahan ekonomi global, percepatan realisasi belanja negara diharapkan bisa menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini masih lemah.
“Pengeluaran pemerintah berperan sebagai penopang ekonomi, membantu menggerakkan kembali aktivitas ekonomi nasional,” tutur Samuel.
Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan negosiasi tarif secara global. Kepastian arah kebijakan perdagangan dipercaya dapat mendukung sentimen positif dan menekan tingkat ketidakpastian di pasar.
Samuel menambahkan bahwa valuasi pasar saham Indonesia saat ini tetap menarik untuk investor jangka panjang. Namun demikian, ia menegaskan pentingnya melakukan diversifikasi serta manajemen risiko yang baik dalam menghadapi dinamika pasar yang tinggi.
“Sentimen pasar bisa berubah sewaktu-waktu, baik dari faktor domestik maupun global. Oleh karena itu, penting untuk selalu waspada dan menjaga keseimbangan dalam portofolio investasi,” pungkasnya.
Sumber: kompas.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.