RI Tambah Impor Minyak dari AS, Ini Risiko & Dampaknya ke Ekonomi!

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 24 May 2025 Waktu baca 5 menit

illustrasi

Pemerintah Indonesia berencana untuk meningkatkan jumlah impor minyak dari Amerika Serikat (AS). Langkah ini diambil sebagai tanggapan atas kebijakan tarif perdagangan baru yang diberlakukan oleh pemerintah AS.

 

Saat ini, porsi impor bahan bakar minyak (BBM) Indonesia dari AS masih tergolong kecil, yakni hanya sekitar 4% dari total impor BBM nasional. Meski demikian, rencana peningkatan impor dari AS harus dicermati secara serius.

 

Mantan Gubernur Indonesia untuk OPEC periode 2015–2016, Widhyawan Prawiraatmadja, mengingatkan bahwa biaya pengadaan minyak dari AS akan jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan biaya impor dari negara-negara Timur Tengah.

 

Ia menjelaskan bahwa jarak antara Indonesia dan AS cukup jauh, sehingga waktu pengiriman dapat memakan hingga 20 hari. Sebagai perbandingan, impor dari Timur Tengah hanya membutuhkan waktu sekitar 10 hari.

 

"Jarak yang jauh berarti waktu tempuhnya juga lama. Bisa dua kali lipat," ujar Widhyawan kepada CNBC Indonesia dalam sebuah wawancara, seperti dikutip pada Jumat (23/5/2025).

 

Ia menambahkan bahwa jarak yang lebih panjang juga akan meningkatkan biaya transportasi secara keseluruhan.

"Artinya, selain biaya pengangkutan yang lebih mahal, kita juga harus menanggung biaya penyimpanan yang lebih besar. Yang semula cukup untuk 10 hari, kini harus disiapkan untuk 20 hari karena pengirimannya memakan waktu lebih lama," jelasnya.

 

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyampaikan bahwa terdapat tiga faktor utama yang harus diperhatikan sebelum memutuskan peningkatan impor migas dari AS. Semua faktor ini perlu dipertimbangkan secara cermat karena berpengaruh terhadap ketahanan energi nasional.

 

"Menanggapi rencana penambahan impor migas dari AS, tentu kami harus mempertimbangkan berbagai tantangan teknis dan risiko secara menyeluruh, baik dari segi logistik, distribusi, kesiapan infrastruktur, maupun aspek ekonomi, untuk mencegah risiko yang bisa mengganggu ketahanan energi nasional," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, dikutip Jumat (23/5/2025).

 

Simon menyebutkan bahwa waktu pengiriman migas dari AS ke Indonesia dapat memakan waktu hingga 40 hari, yang jauh lebih lama dibandingkan waktu pengiriman dari Timur Tengah.

 

"Risiko utama berasal dari lamanya waktu pengiriman dari AS, yakni sekitar 40 hari, dibandingkan dengan pasokan dari Timur Tengah atau negara-negara Asia yang waktunya lebih singkat," jelasnya.

 

Ia juga menyoroti risiko tambahan yang berasal dari kondisi cuaca, yang bisa mempengaruhi ketersediaan stok energi nasional.

"Oleh karena itu, Pertamina kini tengah melakukan kajian menyeluruh yang mencakup aspek teknis, komersial, serta risiko operasional untuk memastikan bahwa skenario peningkatan pasokan dari AS bisa dijalankan secara efisien," tambahnya.

 

Pertamina juga menilai pentingnya dukungan dari pemerintah dalam bentuk regulasi atau kebijakan sebagai dasar pelaksanaan kerja sama energi.

 

"Adanya komitmen kerja sama antar pemerintah (G2G) antara Indonesia dan AS akan memberikan jaminan stabilitas politik dan kepastian hukum, yang selanjutnya bisa diterjemahkan menjadi kerja sama bisnis antar perusahaan secara teknis dan operasional," pungkasnya.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.