Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Saham News - Diposting pada 06 February 2025 Waktu baca 5 menit
Saham Bank Mandiri (BMRI) Tertekan pada Sesi I Perdagangan 6 Februari 2025
Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) kembali mengalami penurunan pada sesi I perdagangan 6 Februari 2025. Pada pukul 10:12 WIB, harga saham BMRI tercatat di Rp 5.200, turun 5,88%.
Selama sesi perdagangan tersebut, sudah ada 150,35 juta saham BMRI yang diperdagangkan dengan 28.386 kali transaksi dan nilai transaksi mencapai Rp 804 miliar.
Sejak 24 Januari 2025 hingga 5 Februari 2025, saham BMRI selalu ditutup di zona merah. Dalam sepekan terakhir, harga saham BMRI melemah sekitar 15%.
Meskipun harga saham BMRI sedang turun, hal ini menandakan bahwa harga saham tersebut terbilang murah dengan PBV (Price to Book Value) sekitar 1,78 kali, lebih rendah dari mean PBV 3 tahun yang berada pada 2,22 kali. Selain itu, PER (Price to Earnings Ratio) tercatat sebesar 8,37 kali (TTM), juga lebih rendah dari mean PE 3 tahun yang mencapai 11,51 kali.
Rahmanto Tyas Raharja, lead investment analyst Stockbit, menilai bahwa kinerja Bank Mandiri (BMRI) pada 4Q24 menunjukkan hasil yang netral, dengan laba bersih sebesar Rp 13,8 triliun (-14% yoy, -11% qoq).
"Hasil ini membawa total laba bersih sepanjang FY24 menjadi Rp 55,8 triliun (+1,3% yoy), sejalan dengan ekspektasi karena mencapai 99% dari estimasi konsensus FY24F," ujar Rahmanto dalam ulasannya pada Kamis (6/2/2025).
Kinerja Laba dan Dividen BMRI
Menurut Rahmanto, penurunan laba bersih BMRI pada 4Q24 dipengaruhi oleh bengkaknya beban operasional. Pre-provision operating profit (PPOP) turun menjadi Rp 21,1 triliun pada 4Q24 (-6,8% yoy, -9,5% qoq) akibat meningkatnya beban operasional sebesar +23% yoy dan +36% qoq.
"Terjadi peningkatan signifikan pada beban umum dan administrasi yang naik +41% yoy dan +63% qoq, serta selama FY24 mengalami kenaikan +17% yoy," jelasnya.
Rahmanto juga menyebut bahwa manajemen BMRI berencana untuk menjaga dividend payout ratio (DPR) untuk tahun buku 2024 di level ≥60% (bandingkan dengan 60% pada 2023), yang akan memberikan dividend yield sekitar 6,5% berdasarkan harga saham intraday pada Rabu (5/2/2025) di Rp 5.550 per lembar saham.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: investors.id
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.