Kerugian GOTO Rp 90 Triliun, Apa Itu Goodwill yang bikin Rugi Goto??

Saham News - Diposting pada 25 March 2024 Waktu baca 5 menit

DIGIVESTASI - Emiten teknologi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapat perlakuan khusus,  otoritas bursa sendiri menggelar karpet merah bagi startup yang ingin melakukan penawaran umum perdana (IPO). Perlakuan khusus ini memungkinkan perusahaan untuk go public meski terus merugi, asalkan fundamentalnya bagus. Untuk saham dan emiten teknologi, Anda bisa memperkirakan harganya murah karena rasio penilaian umum, seperti price-to-earnings (P/E) dan price-to-book rasio (PBV), biasanya rendah.


Sayangnya, masih ada  emiten teknologi  startup yang P/E/PBVnya belum bisa diukur  karena masih merugi. Pada dasarnya PBV merupakan indikator pertama mahal atau murahnya suatu saham, namun penggunaannya relatif terbatas karena hanya mengacu pada neraca keuangan tanpa mempertimbangkan situasi untung dan rugi perusahaan. Kualitas aset pada setiap perusahaan dan industri juga berbeda-beda sehingga dapat menimbulkan ilusi.  Perusahaan dengan proporsi aset lancar yang tinggi cenderung memiliki PBV yang relatif  tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang aset utamanya tergolong aset jangka panjang atau tidak dapat dengan cepat dikonversi menjadi uang tunai. 

 

Hal ini  saat ini  terjadi pada beberapa perusahaan teknologi publik, dengan aset jangka panjang menyumbang sebagian besar total aset perusahaan. Hampir 80%  aset jangka panjang diklasifikasikan sebagai goodwill.

 

Mengenal Goodwill?

Goodwill merupakan aset di neraca perusahaan dan termasuk dalam kategori aset  tidak berwujud. Oleh karena itu, besarnya goodwill sulit diukur secara akurat dan benar-benar mencerminkan keadaan neraca keuangan perusahaan.Goodwill timbul ketika suatu perusahaan mengakuisisi perusahaan lain dengan jumlah yang melebihi nilai aset bersihnya. Umumnya perbedaan tersebut diklasifikasikan sebagai niat baik.

 

Goodwill sendiri merupakan praktik umum yang sering diterapkan oleh perusahaan teknologi, karena banyak  aset perusahaan yang tidak berwujud.  Aset tidak berwujud mencakup paten dan data konsumen. Namun, tantangan terbesarnya adalah seberapa akurat dan tepat goodwill mewakili aset tak berwujud  perusahaan. 

 

Namun BEI, yang merupakan regulator utama pencatatan perusahaan publik di Indonesia, juga tidak mengatur secara komprehensif goodwill dalam pedoman dan persyaratan IPO-nya. Otoritas bursa hanya menyebutkan perusahaan yang tercatat di papan utama harus memiliki aset fisik minimal Rp 100 miliar, dan  papan pengembangan minimal Rp 5 miliar. 
“Dari segi persyaratan numerik laporan keuangan, perusahaan harus memenuhi persyaratan kekayaan bersih  (NTA) minimal Rp 5 miliar. “NTA dihitung dari total aset dikurangi  aset tak berwujud, aset pajak tangguhan, total utang, dan kepentingan nonpengendali,” tulis BEI dalam panduan IPO-nya.

 

Sebaliknya, menurut Panduan BEI, belum ada aturan rinci mengenai aset tak berwujud, termasuk  aturan mengenai goodwill. Akibatnya, goodwill sulit dideteksi, yang berarti sebagian besar saham teknologi Indonesia masih membukukan kerugian bersih, meskipun aspek keuangan lainnya mengalami pemulihan yang baik. 

 

Misalnya, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) merupakan peningkatan aset tak berwujud GOTO pada saat IPO akibat merger dan akuisisi dengan Tokopedia. Penggabungan ini mengkonsolidasikan Tokopedia menjadi perusahaan dengan penilaian akuisisi yang jauh melebihi aset bersihnya. 

 

Hingga merger pada Mei 2021, harga akuisisi Tokopedia sebesar Rp 103,2 triliun  menghasilkan goodwill  senilai Rp 93,12 triliun. Artinya, kekayaan bersih Tokopedia saat akuisisi adalah Rp 10 triliun. Tingginya biaya akuisisi  bukan tanpa alasan, mengingat  Tokopedia  mencapai valuasi senilai USD 7,5 miliar atau  Rp 112,5 triliun pada puncaknya dalam putaran pendanaan Seri A yang dipimpin  Temasek dan Google. 

 

Akuisisi ini sendiri dilakukan tanpa uang tunai, dimana perusahaan mengganti pembayaran pemegang saham sebelumnya dengan saham  GOTO. Penggabungan ini terjadi pada puncak pemulihan investasi sektor teknologi pasca-pandemi dan di tengah membanjirnya modal murah sebagai akibat dari kebijakan moneter yang longgar, yang menunjukkan bahwa aliran modal ke perusahaan rintisan tidak akan pernah berhenti.

 

Alhasil, valuasi perusahaan meningkat signifikan, hal serupa juga terjadi di Tokopedia akibat sikap bullish investor dana swasta. Namun, seiring dengan pengetatan kebijakan moneter global, kondisi perusahaan teknologi juga membaik. Faktanya, valuasi yang berlebihan ini tidak dapat dipertahankan karena banyak startup global yang valuasinya diturunkan secara signifikan. 

 

Nilai perusahaan pembayaran Stripe turun dari $95 miliar menjadi $50 miliar, sementara nilai raksasa edtech India Biju turun dari $22 miliar menjadi $1 miliar sisanya. Hal serupa juga terjadi pada Tokopedia yang secara internal  mencatatkan kerugian  penurunan nilai pada laporan keuangan tahun 2022. 

 

Saat itu, perusahaan mencatatkan goodwill Tokopedia sebesar Rp17 triliun, naik dari Rp93 triliun pada awal merger menjadi Rp76 triliun pada akhir tahun. Baru-baru ini, nilai niat baik GOTO semakin menurun setelah TikTok mengakuisisi Tokopedia. 
Akhir tahun lalu, Tokopedia diakuisisi  TikTok senilai $840 juta atau sekitar Rp13 triliun, dan TikTok menjadi administrator dengan 75% saham. 

 

Artinya, sisa 25% saham GOTO  di Tokopedia bernilai $3,38 triliun, sebagaimana tercantum dalam laporan keuangan terbaru GOTO. Dengan akuisisi tersebut, Tokopedia kembali mengalami kerugian senilai 73,19 triliun.  
Hal ini pada akhirnya menyebabkan laba bersih perseroan menurun senilai Rp 90,39 triliun.

 

Perlu diperhatikan bahwa karena nilai goodwill itu sendiri timbul dari transaksi non tunai, maka kerugian akibat penurunan nilai ini merupakan kerugian non tunai dan tidak mempengaruhi  likuiditas atau likuiditas perusahaan. Anjloknya nilai ini juga bisa diartikan sebagai pecahnya rating bubble Tokopedia. 

 

Ini akan menjadi kali terakhir Tokopedia diintegrasikan ke dalam laporan keuangan GOTO, karena Tokopedia kehilangan kendali pada 1 Februari tahun lalu dan tidak lagi menjadi  anak perusahaan GOTO, dan laporannya telah terintegrasi ke dalam TikTok.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.