Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Saham News - Diposting pada 19 February 2025 Waktu baca 5 menit
Jakarta – Saham perbankan kembali menjadi pusat perhatian di pasar modal setelah aksi beli agresif oleh investor asing dalam beberapa hari terakhir.
Data menunjukkan bahwa investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 798 miliar di saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Rp 256 miliar di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan Rp 114 miliar di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, mengatakan bahwa lonjakan minat investor mencerminkan kepercayaan tinggi terhadap sektor perbankan, didukung oleh kebijakan ekonomi, prospek kinerja yang solid, serta sentimen positif dari dividen dan program buyback.
Salah satu faktor utama yang mendorong reli saham perbankan adalah kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE), yang mewajibkan eksportir menempatkan 100% dananya di dalam negeri selama 12 bulan.
"Kebijakan ini berpotensi meningkatkan likuiditas di sektor perbankan, yang bisa menjadi tambahan modal untuk ekspansi kredit. Namun, dampaknya masih perlu dievaluasi lebih lanjut, terutama apakah dana tersebut benar-benar akan masuk ke perbankan atau justru ke instrumen lain," ujar Hendra kepada Liputan6.com, Rabu (19/2/2025).
Secara fundamental, sektor perbankan tetap menunjukkan kinerja yang kuat, dengan pertumbuhan kredit yang stabil di segmen konsumsi dan UMKM.
Menjelang musim pembagian dividen, saham-saham bank semakin menarik karena rasio dividen yang tinggi. BBRI, misalnya, berencana membagikan 80-85% laba tahun buku 2024 sebagai dividen, sementara BMRI dan BBNI juga diperkirakan meningkatkan rasio pembagian dividen dibanding tahun sebelumnya.
"Selain itu, rencana buyback saham oleh beberapa bank besar semakin memperkuat sentimen positif di pasar, menunjukkan keyakinan manajemen terhadap valuasi saham mereka," kata Hendra.
Dengan fundamental yang kuat, dukungan dari kebijakan ekonomi, serta potensi pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia, prospek saham perbankan diprediksi tetap cerah pada 2025.
Analis merekomendasikan BUY untuk saham:
Presiden Prabowo Subianto resmi menandatangani kebijakan terbaru terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA). Aturan ini mewajibkan eksportir menyimpan 100% devisa hasil ekspor di Indonesia selama satu tahun.
"Selama ini, banyak DHE yang disimpan di luar negeri. Untuk memperkuat dampak ekonomi domestik, seluruh devisa hasil ekspor SDA harus disimpan di rekening bank nasional," ujar Prabowo dalam konferensi pers di Istana Negara, Senin (17/2/2025).
Sebelumnya, hanya 30% DHE yang wajib disimpan di dalam negeri. Namun, dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 8 Tahun 2025, jumlah tersebut ditingkatkan menjadi 100% dengan masa penyimpanan minimal 12 bulan.
Aturan ini berlaku untuk sektor pertambangan (kecuali minyak dan gas), perkebunan, kehutanan, dan perikanan. Kebijakan ini mulai berlaku pada 1 Maret 2025.
Prabowo optimistis kebijakan ini dapat menambah devisa hingga USD 80 miliar sepanjang 2025, dan lebih dari USD 100 miliar pada 2026.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: liputan6.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.