Berita Terkini
Timur Tengah Memanas! NATO Bereaksi atas Rencana Blokade Hormuz oleh AS-Apa Dampaknya ke Dunia?
/index.php
Saham News - Diposting pada 30 March 2026 Waktu baca 5 menit
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka langsung melemah sebesar 1,08% atau turun 76,53 poin ke posisi 7.020,53 pada pagi hari ini, Senin (30/3/2026). Dalam beberapa menit berikutnya, penurunan IHSG semakin dalam hingga mencapai -1,65%.
Tercatat sebanyak 251 saham mengalami penurunan, 161 saham menguat, dan 546 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp404,2 miliar dengan volume 341,2 juta saham yang diperdagangkan dalam 53.920 kali transaksi.
Pada dasarnya, pasar masih menunggu sinyal yang jelas seperti tercapainya gencatan senjata di kawasan Timur Tengah, dibukanya kembali jalur energi utama seperti Selat Hormuz, serta turunnya harga minyak kembali ke bawah US$80 per barel.
Selama faktor-faktor tersebut belum terwujud, IHSG cenderung akan sulit mengalami rebound yang signifikan karena tekanan dari faktor eksternal masih mendominasi. Dalam kondisi saat ini, peluang kenaikan IHSG masih sangat terbatas karena belum adanya katalis positif yang kuat dari sisi global.
Eskalasi konflik kini memasuki tahap yang lebih kompleks dengan munculnya risiko double chokepoint.
Jika sebelumnya perhatian pasar hanya tertuju pada Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, kini fokus mulai bergeser ke Bab el-Mandeb setelah kelompok Houthi di Yaman turut terlibat dalam konflik.
Jalur tersebut merupakan penghubung utama perdagangan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez dan mencakup sekitar 6–12% arus perdagangan global. Apabila kedua jalur ini terganggu secara bersamaan, maka sekitar 25–30% pasokan minyak dunia berpotensi terdampak, yang pada akhirnya meningkatkan risiko inflasi global serta memperbesar kemungkinan terjadinya resesi. Dalam kondisi tersebut, harga minyak berpotensi bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi tekanan tambahan karena harga minyak yang tinggi berada di atas batas kenyamanan fiskal yang idealnya berada di bawah US$80 per barel.
Dengan asumsi dalam APBN harga minyak ditetapkan sebesar US$70 per barel, setiap kenaikan US$10 berpotensi meningkatkan defisit sekitar Rp51,8 triliun.
Jika harga minyak mencapai US$100 per barel, tambahan subsidi energi diperkirakan mencapai Rp236 triliun, sementara tambahan penerimaan hanya sekitar Rp81 triliun, sehingga berpotensi menambah defisit hingga Rp155 triliun. Tekanan terhadap fiskal tersebut pada akhirnya turut mempengaruhi sentimen pasar saham domestik.
Di sisi lain, dinamika global juga dipengaruhi oleh kebijakan The Fed yang pada dasarnya bertugas menjaga stabilitas inflasi dan pasar tenaga kerja, namun secara tidak langsung juga berperan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan yang sangat bergantung pada likuiditas.
Namun demikian, kondisi likuiditas saat ini cenderung semakin ketat, di mana dampak dari tingginya harga minyak membuat inflasi tetap tinggi sehingga skenario suku bunga tinggi dalam jangka waktu panjang (higher for longer) berpeluang besar terjadi hingga tahun 2027.
Indikator lain yang memperkuat kondisi ini adalah kenaikan CBOE Volatility Index (VIX) yang saat ini berada di atas level 30, yang merupakan posisi tertinggi sejak awal tahun.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.