Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Saham News - Diposting pada 27 June 2025 Waktu baca 5 menit
PT Dwimuria Investama Andalan, perusahaan investasi milik Grup Djarum, kini secara resmi menjadi salah satu pemegang saham PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL). Langkah ini menjadikan Grup Djarum menyusul jejak Grup Astra, yang sebelumnya telah terlebih dahulu mengoleksi saham operator jaringan rumah sakit Hermina tersebut. Berdasarkan keterbukaan informasi pada Rabu (25/6/2025), manajemen HEAL menyampaikan bahwa saham hasil buyback telah dialihkan kepada Dwimuria Investama.
Jumlah saham yang dialihkan mencapai 559,19 juta lembar dengan harga pelaksanaan sebesar Rp1.875 per saham. Jika dibandingkan dengan harga pasar HEAL per Kamis (26/6/2025) sebesar Rp1.420, maka pembelian yang dilakukan Grup Djarum terjadi pada harga premium sekitar 32%.
Total estimasi dana yang digelontorkan oleh Grup Djarum untuk akuisisi ini mencapai Rp1,04 triliun. Transaksi ini dilakukan di luar mekanisme Bursa Efek Indonesia (BEI) dan tidak melibatkan hubungan afiliasi antara kedua belah pihak.
Setelah transaksi ini rampung, HEAL mengumumkan bahwa mereka sudah tidak lagi menyimpan saham treasury. Sebagai tambahan informasi, Dwimuria Investama juga merupakan pemilik saham mayoritas PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), serta memiliki porsi kepemilikan sebesar 8,35% di PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).
Di sisi lain, Grup Astra telah terlebih dahulu mengakumulasi kepemilikan saham di HEAL. Berdasarkan data KSEI per 23 Juni 2025, Astra tercatat memiliki sekitar 1,11 miliar saham HEAL atau setara 7,23% kepemilikan.
Astra mulai masuk ke saham HEAL pada periode Agustus hingga September 2022 dengan harga pembelian berkisar antara Rp1.335 hingga Rp1.375 per saham, dan sejak saat itu tidak terdapat perubahan signifikan dalam jumlah saham yang dimilikinya.
Performa Keuangan Melambat, Margin Stagnan
Dari sisi keuangan, pada kuartal I tahun 2025, HEAL mengalami penurunan profitabilitas secara tahunan (year-on-year). Pendapatan tercatat sebesar Rp1,69 triliun, menurun dari Rp1,7 triliun pada kuartal I/2024. Di saat yang sama, beban pokok pendapatan meningkat dari Rp1,03 triliun menjadi Rp1,11 triliun, yang menyebabkan laba kotor turun dari Rp668,84 miliar menjadi Rp582,15 miliar.
Penurunan ini turut berdampak pada laba bersih perusahaan, yang terpangkas 34,67% secara tahunan menjadi Rp124,72 miliar.
Dari sisi margin, HEAL sempat mengalami penurunan tajam pada tahun 2022, yang dipicu oleh tingginya basis pada 2021 akibat lonjakan pasien selama masa pandemi. Meski dari 2022 hingga 2024 margin menunjukkan tren naik, pertumbuhannya cenderung datar dan tidak terlalu signifikan.
Ekspansi Bisnis HEAL dan Arah Reformasi Industri Kesehatan
Industri layanan kesehatan nasional sedang memasuki fase transformasi besar, yang dimulai dalam waktu dekat.
Salah satu regulasi penting adalah penerapan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS), yang akan menggantikan sistem kelas 1, 2, dan 3 dalam layanan BPJS Kesehatan. Meskipun awalnya dijadwalkan berlaku pada 30 Juni 2025, pelaksanaan KRIS ditunda hingga akhir tahun. Sementara itu, penyesuaian terkait manfaat dan iuran tetap akan diberlakukan mulai 1 Juli 2025.
Penundaan ini memberikan waktu tambahan bagi pelaku industri, termasuk HEAL, untuk meningkatkan infrastruktur dan kapasitas layanan. Tahun ini, HEAL menargetkan pembangunan dua rumah sakit baru di Bali dan Salatiga dengan nilai investasi sebesar Rp346 miliar. Masing-masing rumah sakit akan menambah 100 tempat tidur, ditambah penambahan 600 tempat tidur di rumah sakit eksisting.
Secara total, HEAL menargetkan peningkatan kapasitas tempat tidur dari 8.252 menjadi 9.000 unit pada akhir 2025. Dengan ekspansi ini, manajemen memproyeksikan EBITDA tahun ini mencapai Rp2,2 triliun dan pendapatan sebesar Rp7,8 triliun. Selain membuka rumah sakit baru, perusahaan juga akan membangun fasilitas dan gedung tambahan di lokasi-lokasi yang telah ada untuk mendukung pelayanan.
Di luar KRIS, prospek pertumbuhan HEAL juga mendapat dorongan dari kebijakan co-payment yang saat ini tengah digodok oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam skema ini, pemegang polis asuransi akan membayar sendiri 10% dari total biaya klaim, dengan batas maksimal Rp300 ribu untuk rawat jalan dan Rp3 juta untuk rawat inap. Walaupun menuai pro dan kontra karena menambah beban pasien, co-payment dinilai memberikan manfaat positif bagi industri rumah sakit, seperti mempercepat arus kas dan meminimalisir keterlambatan pembayaran klaim, serta mendorong penggunaan layanan medis yang lebih efisien.
Bagi HEAL, kebijakan ini bisa menjadi pendorong kinerja, terutama karena perusahaan telah mengimplementasikan sistem Coordination of Benefit (CoB) yang memungkinkan kombinasi manfaat dari BPJS dan asuransi swasta. Skema co-payment yang lebih stabil serta penerapan KRIS yang mencerminkan biaya aktual memberikan peluang bagi HEAL untuk meningkatkan margin laba yang dalam beberapa tahun terakhir stagnan. Saat ini, segmen BPJS menyumbang sekitar 51% dari total pendapatan HEAL hingga kuartal I/2025.
Selain itu, pemerintah juga tengah mempersiapkan reformasi dalam sistem pembayaran layanan kesehatan dengan penggantian sistem tarif INA-CBG menjadi Indonesian Diagnosis Related Group (iDRG). Sistem baru yang diadaptasi dari Malaysia ini (MY-DRG) dirancang lebih sesuai dengan kebutuhan klinis dan struktur biaya di Indonesia, dan akan diluncurkan pada Juli 2025 sebagai bagian dari reformasi menyeluruh.
Dengan berbagai perubahan tersebut, tahun 2025 menjadi momen penting dalam transformasi industri rumah sakit di Indonesia. Perubahan kebijakan, sistem tarif, dan model pembiayaan akan mendorong pelaku industri untuk terus berinovasi, berekspansi, dan berinvestasi secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, masuknya Grup Djarum dan Astra ke saham HEAL dapat dilihat sebagai bentuk optimisme terhadap prospek jangka panjang sektor kesehatan Indonesia sekaligus dukungan nyata untuk penguatan ekosistem layanan kesehatan nasional.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.