Strategi Menabung Cerdas! Dana Haji Terkumpul Lebih Cepat

Edukasi - Diposting pada 08 March 2025 Waktu baca 5 menit

Illustrasi

Perencanaan Keuangan yang Tepat untuk Mewujudkan Impian Berhaji

Menunaikan ibadah haji adalah impian setiap Muslim. Namun, tingginya biaya dan panjangnya daftar tunggu menjadikan perencanaan keuangan sebagai faktor kunci untuk mewujudkannya. Ada beberapa strategi efektif yang dapat diterapkan guna menyiapkan dana haji secara optimal.

 

Berapa Besar Dana yang Harus Disiapkan?

Menabung untuk biaya haji membutuhkan perencanaan jangka panjang, terutama bagi calon jemaah yang memilih jalur reguler dengan masa tunggu hingga puluhan tahun.

 

Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andi Nugroho, menyarankan agar 10 persen dari penghasilan bulanan dialokasikan untuk tabungan haji. Namun, jumlah tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan lain dan target keberangkatan.

"Saat membuka tabungan haji, calon jemaah harus menyetor dana awal sebesar Rp25 juta ke bank yang ditunjuk oleh badan pengelola haji. Setoran ini memastikan calon jemaah terdaftar dan mendapatkan nomor antrian keberangkatan. Selain itu, dana tersebut akan menjadi saldo tabungan haji mereka," jelas Andi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (7/3).

 

Untuk tahun 2025, biaya haji reguler diperkirakan mencapai Rp56 juta. Dengan setoran awal Rp25 juta, calon jemaah masih perlu menabung sekitar Rp31 juta hingga waktu keberangkatan tiba.

 

"Bagi mereka yang mendaftar dari Jakarta, waktu tunggu haji bisa mencapai 28 tahun. Artinya, mereka memiliki 28 tahun untuk mengumpulkan sisa Rp31 juta, atau cukup menabung sekitar Rp100 ribu per bulan," tambahnya.

 

Sementara itu, perencana keuangan dari OneShildt, Budi Rahardjo, menekankan pentingnya konsistensi dalam menabung.

 

"Calon jemaah bisa menyisihkan 5-10 persen dari pendapatan, atau setidaknya Rp1 juta hingga Rp5 juta per bulan. Semakin besar alokasi dana, semakin cepat impian berhaji dapat terwujud," ujarnya.

 

Dimana Sebaiknya Menyimpan Dana Haji?

Keamanan, likuiditas, dan pertumbuhan nilai investasi menjadi faktor utama dalam memilih tempat penyimpanan dana haji.

Menurut Andi, tabungan haji adalah pilihan pertama karena menjadi syarat utama pendaftaran haji. Namun, ia juga merekomendasikan instrumen investasi lain untuk meningkatkan pertumbuhan dana.

 

"Mengingat jangka waktu investasi yang panjang, kita bisa memilih investasi dengan potensi keuntungan tinggi meskipun risikonya juga lebih besar, seperti saham, reksadana berbasis saham atau campuran, serta investasi di properti atau perkebunan jangka panjang seperti jati atau sengon," jelasnya.

 

Budi menambahkan, sebaiknya investasi dilakukan dalam instrumen berbasis syariah, mengingat biaya haji cenderung meningkat setiap tahun.

 

"Instrumen seperti reksadana syariah, obligasi syariah, atau saham syariah bisa menjadi pilihan, selain tabungan haji dengan manfaat imbal hasil syariah," ungkapnya.

 

Selain itu, emas juga bisa menjadi alternatif menarik.

"Emas adalah instrumen yang mampu menjaga nilai aset dari inflasi. Selain sesuai dengan prinsip syariah, emas juga memiliki likuiditas tinggi," kata Budi.

 

Namun, ia mengingatkan agar calon jemaah berhati-hati dalam memilih tempat pembelian emas dan mempertimbangkan biaya jual beli serta penyimpanan.

 

Kapan Waktu yang Tepat untuk Mulai Menabung?

Dengan masa tunggu haji yang bervariasi di setiap daerah, bahkan hingga 40 tahun, calon jemaah disarankan mendaftar secepat mungkin.

 

Jika memiliki dana lebih, orang tua bisa mendaftarkan anak sejak dini agar saat dewasa, mereka tidak perlu menunggu terlalu lama.

 

Budi menambahkan, idealnya perencanaan dana haji dimulai pada usia 25–35 tahun agar bisa berangkat sebelum usia 45 tahun.

 

Bagaimana Agar Tabungan Haji Tetap Aman dan Berkembang?

Menabung dalam jangka panjang memiliki risiko jika tidak dikelola dengan baik.

Budi memberikan beberapa strategi agar dana haji tetap aman dan berkembang:

  • Pilih investasi jangka panjang dengan potensi pertumbuhan minimal 10 tahun.
  • Pisahkan tabungan haji dari dana lain agar tidak tercampur dengan kebutuhan lainnya.
  • Diversifikasi investasi ke beberapa instrumen, seperti tabungan haji, emas, dan reksadana syariah.
  • Jika investasi mengalami risiko tinggi, segera alihkan ke instrumen yang lebih stabil.
  • Pastikan lembaga investasi terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau memiliki kredibilitas tinggi.
  • Hindari investasi dengan iming-iming keuntungan tidak realistis karena berpotensi menjadi modus penipuan.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: cnnindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.