Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 14 March 2025 Waktu baca 5 menit
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa rasio pengusaha di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga. Saat ini, rasio kewirausahaan di Indonesia baru mencapai 3,57 persen, lebih rendah dibandingkan Malaysia dan Thailand yang sudah melampaui 4 persen, serta Singapura yang mencapai 8,6 persen.
"Untuk menjadi negara maju, rasio kewirausahaan idealnya mencapai 10-12 persen. Oleh karena itu, kita harus terus berupaya meningkatkan jumlah pengusaha di Indonesia dengan berbagai strategi," ujar Budi dalam acara Peluncuran Indonesia Licensing and Franchising Expo (ILFEX) 2025 di Jakarta Pusat, Rabu (12/3).
Budi menekankan bahwa peningkatan jumlah pengusaha sangat penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan memperkuat ekosistem kewirausahaan nasional.
Sebagai langkah strategis, Kementerian Perdagangan terus mendorong penguatan merek dan brand lokal, termasuk melalui pengembangan bisnis berbasis waralaba dan lisensi.
Sektor waralaba di Indonesia memiliki potensi besar. Berdasarkan laporan kegiatan usaha 2024, industri waralaba telah menyerap 97.872 tenaga kerja dengan total omzet mencapai Rp143,25 triliun.
Dari jumlah tersebut, 34.503 gerai dikelola secara mandiri, sementara 17.786 gerai telah diwaralabakan. Hingga Februari 2025, Kemendag mencatat 157 pemberi waralaba dalam negeri dan 154 waralaba asing yang beroperasi di Indonesia.
"Sektor food and beverage (F&B) masih menjadi yang terbesar, dengan kontribusi mencapai 47,77 persen, diikuti oleh jasa kecantikan, pendidikan non-formal, ritel, dan sektor lainnya," jelas Budi.
Ia berharap potensi besar ini dapat terus dikembangkan melalui berbagai program dan pameran sebagai media promosi bagi bisnis lokal.
Selain memperkuat pasar domestik, Kemendag juga berupaya mendorong ekspansi brand lokal ke pasar global. Beberapa merek Indonesia bahkan telah berhasil menembus pasar internasional, seperti Alfamart, Ayam Gepuk Pak Gembus, Kebab Turki Baba Rafi, Taman Sari Royal Heritage, dan Roti Ropi dari Klaten.
"Kami ingin waralaba dan lisensi Indonesia dapat menembus pasar ekspor dan bersaing di tingkat global," tegas Budi.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: cnnindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.