Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 10 April 2025 Waktu baca 5 menit
Washington, 8 April 2025 – Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump resmi menerapkan tarif baru sebesar 104% terhadap seluruh impor asal China, efektif mulai tengah malam ini. Kebijakan ini merupakan langkah balasan atas tindakan China yang sebelumnya menaikkan tarif 34% untuk produk-produk asal AS.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut keputusan Beijing sebagai “kesalahan strategis”, mengingat defisit perdagangan AS-China yang menyentuh angka $438,9 miliar pada tahun lalu.
Keputusan Washington ini langsung mengguncang pasar global. Indeks S&P 500 anjlok lebih dari 1,5%, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap risiko eskalasi perang dagang. Di pasar energi, harga minyak mentah turun hampir 4%, akibat meningkatnya ketidakpastian atas hubungan dagang dua raksasa ekonomi dunia.
Menanggapi tindakan AS, Pemerintah China mengecam keras kebijakan tarif tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk “pemerasan ekonomi”. Beijing menyatakan tidak akan tunduk pada tekanan dan siap melakukan tindakan balasan yang setimpal. Sikap keras kedua negara memicu kekhawatiran akan perang dagang berkepanjangan dengan konsekuensi luas terhadap perekonomian global.
Pengenaan tarif 104% diperkirakan akan berdampak langsung pada harga barang impor di Amerika Serikat. Konsumen dapat menghadapi kenaikan harga, sementara sektor industri AS yang sangat bergantung pada pasokan dari China terancam mengalami kenaikan biaya produksi, yang pada akhirnya bisa menekan margin keuntungan dan memicu gelombang PHK.
Di sisi lain, eksportir China juga akan terpukul akibat menurunnya permintaan dari pasar AS, yang berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi Tiongkok.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa eskalasi konflik tarif ini dapat merusak kepercayaan investor dan mengganggu rantai pasok global. Organisasi perdagangan internasional menyerukan dialog damai antara Washington dan Beijing guna menghindari kerusakan ekonomi yang lebih luas.
Jika konflik terus berlarut, perusahaan-perusahaan global diperkirakan akan mulai mengalihkan rantai pasok mereka ke negara-negara alternatif. Namun, proses ini memerlukan waktu dan investasi besar, yang berarti ketidakpastian ekonomi kemungkinan akan terus berlanjut dalam waktu dekat.
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.