Pemerintah Diminta Untuk Stop Pembangunan Smelter Nikel, Kenapa Ya?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 09 August 2023 Waktu baca 5 menit

Pemerintah diharapkan untuk menghentikan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel baru. Pertimbangan ini muncul mengingat semakin menipisnya cadangan nikel RI akibat merebaknya smelter nikel di Tanah Air.

 

Meranggapi hal ini, Menko Marves, Luhut Binsar Pandjaitan, mengakui hal tersebut juga menjadi perhatian pemerintah. Menurutnya, pemerintah akan berhati-hati dalam merancang kebijakan guna menghindari terjadinya pasokan logam nikel yang berlebihan (oversupply) di pasar.

 

Disamping itu, pemerintah juga telah mendapatkan berbagai masukan mengenai kebijakan pengendalian smelter nikel.

 

"Demi menjadi perhatian pemerintah. Itulah sebabnya kami perlu merumuskan kebijakan ini dengan berhati-hati. Kami tidak ingin melihat kelimpahan nikel," ungkap Luhut dalam acara "Konferensi Nikel 2023" CNBC Indonesia belum lama ini.

 

Luhut juga menyadari bahwa jika produk nikel "meluap" di pasar, hal ini berpotensi menurunkan harga nikel di pasar.

 

"Kami tidak berkeinginan menyaksikan kelimpahan nikel karena kelimpahan tersebut berpotensi menurunkan harga dan juga keuntungan," tuturnya.

 

"Jadi, kami berupaya mengatur hal ini dengan sangat cermat," imbuhnya.

 

Luhut menjelaskan, produk logam nikel yang dihasilkan dari proyek smelter di Indonesia saat ini mencapai 1,8 juta ton logam nikel per tahun.

 

Sementara itu, kapasitas smelter yang sedang dibangun saat ini akan menambah produksi sekitar 1 juta ton logam nikel per tahun, dan untuk proyek yang sedang dalam tahap perencanaan akan menambah produksi sekitar 1,5 juta ton logam nikel per tahun.

 

Jika semua proyek tersebut terwujud dan beroperasi, maka diperkirakan produksi logam nikel yang dihasilkan dari smelter di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang dapat mencapai 4,31 juta ton per tahun.

 

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan (Perhapi), Rizal Kasli, menyatakan bahwa pihaknya sudah beberapa kali mengusulkan kepada pemerintah untuk menerapkan moratorium terhadap pembangunan smelter nikel baru. Hal ini disebabkan oleh semakin menipisnya cadangan bijih nikel RI apabila smelter nikel terus merajalela.

 

"Kami sudah beberapa kali mengusulkan penerapan moratorium terhadap pembangunan smelter pirometalurgi yang menggunakan bijih nikel dengan kadar tinggi, yaitu saprolit, yang minim. Apabila terus didorong, kami khawatir cadangan nikel akan semakin rentan," terang Rizal kepada CNBC Indonesia dalam program 'Zona Pertambangan', seperti dikutip pada Selasa (8/8/2023).

 

Rizal menjelaskan bahwa bijih nikel terbagi menjadi dua jenis, yaitu nikel dengan kadar tinggi di atas 1,5% atau saprolit yang diproses melalui smelter pirometalurgi. Sementara itu, produk logam nikel yang dihasilkan dari smelter pirometalurgi ini termasuk nikel kelas dua seperti Nickel Pig Iron (NPI), feronikel, dan nickel matte.

 

Jenis kedua adalah bijih nikel dengan kadar rendah atau limonit yang diproses melalui smelter hidrometalurgi atau High Pressure Acid Leaching (HPAL). Produk nikel yang dihasilkan dari smelter ini seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), Mixed Sulphide Precipitate (MSP), serta nikel sulfat yang digunakan sebagai bahan baku atau komponen baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/ EV).

 

Khusus untuk jenis saprolit, Rizal menjelaskan bahwa cadangan di Indonesia diperkirakan hanya akan bertahan maksimal 7 tahun lagi. Hal ini berlaku jika semua smelter nikel di Indonesia beroperasi, baik yang telah selesai beroperasi maupun yang masih dalam tahap pembangunan dan perencanaan.

 

Sementara itu, untuk bijih nikel dengan kadar rendah atau limonit, Rizal mengungkapkan bahwa cadangan yang ada saat ini dapat bertahan hingga 33 tahun ke depan.

 

"Untuk limonit, dengan data di bawah 1,5% kadar nikel, jika semua fasilitas pemurnian atau smelter hidrometalurgi telah selesai dibangun, maka cadangan ini dapat bertahan sekitar 33 tahun lebih," demikian penjelasan Rizal.

 

Mengacu pada data Badan Geologi Kementerian ESDM, pada tahun 2022, total sumber daya bijih nikel mencapai 17,3 miliar ton dan cadangan bijih nikel sekitar 5,08 miliar ton.

 

Sumber: cnbcindonesia

 

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun InstagramTikTokYoutube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar teknologi aset digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.