Nasib Rupiah Hari Ini: Rebound atau Kian Tertekan? Pantau Pergerakan Terkini!

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 22 June 2025 Waktu baca 5 menit

illustrasi

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan pergerakan yang sangat fluktuatif, dipicu oleh perubahan pandangan pasar global akibat meningkatnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

 

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah pada perdagangan Kamis (19 Juni 2025) mengalami pelemahan yang cukup tajam sebesar 0,58% dan berada di posisi Rp16.390 per dolar AS. Ini merupakan penurunan harian terbesar dalam satu bulan terakhir, setelah sebelumnya mata uang Garuda stabil di kisaran Rp16.200 per dolar AS.

 

Dari sisi teknikal, pergerakan rupiah kembali menemui tantangan karena adanya gap up yang belum tertutup, yang kini menjadi area resistance terdekat di level Rp16.510 per dolar AS. Sementara itu, support penting yang perlu diperhatikan berada di Rp16.210 per dolar AS, yang berasal dari garis horizontal di titik terendah candle pada 23 Mei 2025, dan bertepatan dengan rata-rata pergerakan harian MA200.

 

Para analis mencermati bahwa fluktuasi rupiah terhadap dolar AS sebagian besar disebabkan oleh faktor eksternal.

 

Barra Kukuh Mamia, Ekonom Senior BCA, mengatakan bahwa kondisi pasar saat ini banyak dipengaruhi oleh ketidakpastian akibat konflik antara Israel dan Iran, ditambah dengan keputusan Federal Reserve (The Fed) yang kembali mempertahankan suku bunga tetap.

 

Ia menilai bahwa dorongan positif yang sempat memperkuat rupiah, sekaligus membuka peluang bagi Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga, hanya bersifat sementara.

 

Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri, juga menyampaikan bahwa ketidakpastian global terutama yang dipicu oleh perang antara Israel dan Iran telah mendorong investor kembali mengalihkan aset mereka ke instrumen safe haven seperti dolar AS dan emas. Hal ini turut menyebabkan indeks dolar AS (DXY) mengalami penguatan.

 

Pada tanggal 17 Juni, nilai dolar AS (greenback) tercatat melonjak signifikan sebesar 0,70% dalam satu hari, melampaui level 98. Penguatan kembali terjadi pada hari berikutnya, meski hanya naik tipis 0,03%.

 

Namun, pada perdagangan kemarin, indeks DXY mengalami koreksi ringan sebesar 0,07%. Jika tidak terjadi pelemahan yang lebih besar ke depan, kekuatan dolar AS dapat terus menekan nilai tukar rupiah.

 

Rully Wisnubroto, Chief Economist & Head of Research di Mirae Asset Sekuritas Indonesia, juga mencatat bahwa perubahan sentimen pasar menjadi cenderung risk-off disebabkan oleh ketegangan geopolitik.

 

“Memang sentimen risk-off dari ketegangan geopolitik menyebabkan pelemahan secara menyeluruh, termasuk di pasar saham,” ujarnya.

 

Senada, Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang, menambahkan bahwa depresiasi rupiah juga sejalan dengan koreksi IHSG yang terjadi akibat aksi ambil untung. Hal ini terjadi setelah IHSG sebelumnya mengalami reli signifikan, didorong oleh distribusi dividen serta sentimen negatif dari perkembangan global, khususnya konflik geopolitik.

 

Sebagai informasi, pada perdagangan kemarin, IHSG merosot hampir 2%, yang membuat indeks kembali turun ke bawah level 7000. Penurunan seluruh indeks saham tersebut dipicu oleh aksi jual investor asing yang mencapai Rp1,25 triliun.

Sumber: cnnindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.