Berita Terkini
Timur Tengah Memanas! NATO Bereaksi atas Rencana Blokade Hormuz oleh AS-Apa Dampaknya ke Dunia?
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 25 March 2026 Waktu baca 5 menit
Harga minyak mentah global kembali mengalami lonjakan dan berhasil melampaui angka 100 dolar AS per barel di tengah ketidakpastian terkait arah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang hingga kini belum menunjukkan tanda mereda.
Minyak mentah Brent tercatat naik 4,55 persen ke posisi 104,49 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) meningkat 4,79 persen menjadi 92,35 dolar AS per barel.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa peluang berakhirnya konflik dalam waktu dekat masih terbuka.
Dalam pernyataannya saat pelantikan Markwayne Mullin sebagai Menteri Keamanan Dalam Negeri, Trump mengatakan bahwa Iran “telah sepenuhnya dikalahkan” dan menyebut Amerika Serikat sedang menjalin negosiasi dengan para pemimpin Iran.
Namun demikian, pemerintah Iran membantah adanya komunikasi langsung dengan Washington dan menilai pernyataan tersebut sebagai upaya untuk memengaruhi harga energi serta pasar saham global.
Situasi tegang ini telah memicu volatilitas tinggi di pasar energi dunia. Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dibalas oleh Teheran dengan langkah yang secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia setiap hari.
Akibatnya, harga minyak sempat melonjak hingga 113 dolar AS per barel sebelum kembali bergerak fluktuatif.
Kepala eksekutif Wael Sawan memperingatkan potensi kekurangan pasokan minyak di Eropa mulai bulan depan. Ia menjelaskan bahwa dampak krisis energi telah menyebar dari Asia Selatan ke Asia Tenggara dan Asia Timur, serta diperkirakan akan semakin terasa di Eropa pada April.
“Asia Selatan menjadi wilayah pertama yang merasakan dampaknya. Dampak tersebut kemudian bergeser ke Asia Tenggara, Asia Timur, dan selanjutnya akan semakin terasa di Eropa memasuki April,” ujarnya seperti dikutip dari BBC, Rabu (25/3/2026).
Harga minyak sempat mengalami penurunan setelah pernyataan Trump yang menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari, menyusul pembicaraan yang disebut berlangsung konstruktif.
Namun, keraguan terhadap efektivitas negosiasi tersebut kembali mendorong harga minyak naik ke atas 103 dolar AS per barel.
Di pasar saham, pergerakan indeks global menunjukkan variasi. Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 turun 0,37 persen dan ditutup pada level 6.556,37.
Sementara itu, di Eropa, indeks FTSE 100 London naik 0,72 persen, indeks DAX Jerman melemah tipis, dan indeks CAC 40 Prancis menguat 0,23 persen.
Berbeda dengan kondisi tersebut, pasar saham Asia justru mencatat penguatan. Indeks Nikkei 225 meningkat 1,4 persen, sedangkan Hang Seng Index dan KOSPI masing-masing naik lebih dari 2,7 persen.
Dampak konflik juga mulai terasa di sektor riil. Dunia usaha di Inggris melaporkan kenaikan biaya input terbesar sejak 1992, berdasarkan survei S&P Global Purchasing Managers’ Index.
Sejumlah negara mulai mengambil langkah untuk meredam dampak lonjakan harga energi. Amerika Serikat melonggarkan sebagian sanksi terhadap Rusia dan minyak Iran, sementara China menunda kenaikan harga bahan bakar untuk mengurangi tekanan terhadap konsumen.
Sumber: kompas.id
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.